oleh

Tari Gending Sriwijaya untuk Ingatkan Kejayaan Nusantara Abad 7

Tari Gending Sriwijaya yang dibawakan Sanggar Sanggrida Sriwijaya menjadi pembuka pengukuhan MARS Indonesia yang berlangsung di Kementerian Dalam Negeri, 24 Agustus 2017.  Pengukuhan dilakukan Menteri Dalam Negeri yang menandai babak baru peran para Raja Sultan di Indonesia setelah lama tenggelam akibat penjajahan Belanda dan berlanjut di Pemerintahan RI sebelumnya.

Dengan suara gendhing yang merambat syahdu di jiwa, sembilan gadis penari dengan busana kuning keemasan melenggak lenggok. Sebanyak 259 Raja, Sultan, Datuk, Penglingsir, dan Pemangku Adat dari 34 Provinsi, dan juga tamu undangan lain berbinar menatap keindahan tari yang tersuguh di Gedung Sapta Bhakti Praja.

Penari terdepan membawa cerano atau tempat sirih. Ya tari Gendhing Sriwijaya ditampilkan sebagai tari selamat datang bagi para tamu agung. Acara Pengukuhan MARS Indonesia dihadiri 259 Raja, Sultan, Datuk, Penglingsir, dan Pemangku Adat dari 34 Provinsi.

Sekitar 12 menit, para Raja Sultan dan tamu undangan lain dibuat terpesona. Dan pada akhir tarian, sang penari terdepan, menghampiri tamu undangan untuk menyuguhkan sirih. Tamu undangan pun mencicipi sirih. Bagi budaya Nusantara, Sirih adalah jamuan selamat datang.

MARS Indonesia menilai Sriwijaya adalah simbol tepat Kebangkitan Nusantara abad 21. Para Raja, Sultan, Datuk,  Penglingsir, dan Kepala Adat percaya, Indonesia tengah memasuki Golden Age abad 21. Para Raja Sultan meyakini setiap kelipatan 7 abad, Nusantara akan memasuki zaman kejayaan.

Tengok saja, pada abad 7, Nusantara memiliki Kerajaan Sriwijaya yang menjadi pusat peradaban dunia di saat belahan dunia lain masih berada dalam kegelapan. Setelah itu, 7 abad kemudian, muncul Kerajaan Majapahit, yang mengulang kejayaaan Sriwijaya. Tak hanya kekuatan politik dan militernya yang sangat tangguh di kawasan Asia, Majapahit juga memunculkan peradaban dengan lahirnya kitab-kitab yang sangat bernilai antara lain, Kitab Sutasoma dan Negara Kertagama.

Pancasila yang menjadi dasar negara Republik Indonesia saat ini dan juga semboyan Bhineka Tunggal Ika berasal dari kejayaan Kerajaan Majapahit yang menjadi arena ideal bersemainya pujangga-pujangga keraton yang masyhur seperti Mpu Tantular.

Kitab Negara Kertagama diakui dunia. Thomas Stamford Raffles, yang pernah berkuasa di Nusantara membawa Kitab Negara Kertagama dan isinya mempengaruhi perkembangan Inggris dalam kemajuan negaranya.

“Nah, 7 abad setelahnya itu abad 21, ya pada masa sekarang dan ke depan. Indonesia sudah diramalkan banyak pihak akan menjadi kekuatan dunia,” kata Sekertaris III MARS Indonesia, Pangeran Nata Adiguna Mas’ud Thoyib Jayakarta Adiningrat kepada Media Raja. (MM)