oleh

CSR Astra Honda Motor, Melestarikan Angklung Lewat Sekolah Satu Hati

JAKARTA, MEDIARAJA.com- Angklung bagi siswa sekolah Satu Hati  tidak lagi sekedar gambar dalam buku teks pelajaran. Berkat dukungan  program Corporate Social Responsibility (CSR) Astra Honda Motor, generasi muda kembali lihai memainkan alat musik warisan leluhur.

Siswa sekolah Satu Hati dengan polesan Saung Angklung Udjo, Bandung, telah mahir memainkan angklung dan tampil di berbagai kegiatan baik di tingkat sekolah maupun di luar sekolah. Angklung diharapkan hidup kembali menjadi keseharian generasi penerus, tidak sekedar kekayaan heritige masa lampau.

Silakan baca juga: http://mediaraja.com/diincar-kaum-hawa-berpunya-picu-kaum-muda-lestarikan-tenun-buna-ntt/

Sekolah Satu Hati hanyalah istilah yang diperkenalkan PT Astra Honda Motor untuk sekolah-sekolah yang menjadi binaan perusahaan otomotif tersebut.  Sejak program sekolah Satu Hati digulirkan tahun 2013,  22 sekolah telah bergabung .  Mereka diantaranya SD Negeri Sunter Agung 13, SMP Hang Tuah 3, SMP Gita Kirti 3, SMK Hang Tuah 1, SMK Mitra Industri Cikarang, SMAN 13, SMAN 18, SMAN 40, SMAN 41, SMAN 52, SMAN 72, SMAN 75, SMAN 80, SMAN 110, SMAN 115 dan SMAN 2 Cikampek.

“Sekolah binaan akan terus berkembang, tahun depan menjadi 27 sekolah,” kata Ahmad Muhibuddin, Deputy Head of Corporate Commmunication PT Astra Honda Motor dalam perbincangannya dengan Mediaraja.com di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dalam tahap awal, prioritas AHM adalah membina sekolah yang ada di sekitar perusahaan baik yang di Sunter Jakarta Utara maupun Cikarang Bekasi. “Setelah itu akan melebar ke sekolah-sekolah lain di berbagai daerah,” tambah Muhib.

Muhib menegaskan ada tiga pilar yang menjadi kepedulian AHM dalam membina siswa di sekolah Satu Hati yaitu kepedulian sosial, kepedulian lingungan dan kepedulian budaya. Tiap sekolah harus menerapkan tiga pilar kepedulian jika ingin bergabung dalam sekolah Satu Hati. “Tidak bisa satu-satu, harus dalam paket. Nah dalam kepedulian budaya, dalam tahap pertama adalah angklung dan tentu ke depannya tidak hanya angklung, akan disesuaikan dengan daerahnya masing-masing. Misalnya di Aceh Tari Saman,” tutur pria yang ditugaskan menangani Corporate Social Responsibility (CSR) AHM itu.

Muhib mengatakan pemilihan angklung didasari pertimbangan yang sangat matang. Angklung ternyata tidak hanya alat musik tradisional dengan segala keunikannya, namun juga memiliki filosofi mendalam. Angklung memiliki filosofi kebersamaan, kedisiplinan dan kesabaran. Kebersamaan karena angklung harus dimainkan minimal 15 orang dan maksimal 30 orang. Angklung tidak akan ada maknanya jika hanya dimainkan satu orang. “Bahwa untuk menghasilkan harmoni yang indah harus ada kebersamaan, tanpa ada kebersamaan tak ada artinya, inilah nilai-nilai yang ingin ditanamkan ke generasi muda lewat angklung” tegas Muhib.

Angklung juga harus dimainkan secara disiplin dan penuh kesabaran. Disiplin karena untuk memulainya harus mengikuti sang dirijen dan setiap pemain harus sabar menunggu waktu yang tepat baginya menggoyangkan angklung.

Berbekal pemikiran yang matang itulah, AHM menggandeng Saung Angklung Udjo, Bandung untuk melatih para guru di sekolah Satu Hati.  Guru-guru yang telah terlatih itu kemudian menularkan keahliannya bermusik angklung kepada murid-murid sekolahnya.

“Kita juga memberikan bantuan 30 set yang dibuat Saung Udjo  ke tiap sekolah Satu Hati. Kostum juga kita berikan,” tambah Ahmad Muhibbuddin.

Muhib mengaku mayoritas siswa sekolah Satu Hati tidak mengenal angklung sebelumnya. Mereka semula melihat angklung hanya sebatas gambar dalam buku-buku teks kesenian. “Saya kira sebagian besar siswa sekolah tidak mengenal langsung alat musik tradisional Indonesia yang jumlahnya sangat beragam dari Sabang sampai Merauke, termasuk juga angklung, ini sangat disayangkan,” tambahnya.

Untuk memotivasi para siswa bermain angklung, AHM menyelenggarakan kompetisi tiap tahun bertajuk Pasanggiri Angklung. Guna menambah kebanggaan siswa dalam memainkan angklung, pemenang Pasanggiri Angklung juga ditampilkan di berbagai kegiatan yang diselenggarakan AHM dan seluruh Grup Astra lainnya. “Kita memiliki banyak event baik peluncuran produk, penyambutan tamu, dan peresmian pabrik. Dalam acara itu angklung dari sekolah Satu Hati selalu kita tampilkan,” tutur Muhib.

Muhib berharap dengan langkah ini, AHM turut membantu pelestarian angklung di Indonesia. Aneh rasanya jika angklung sudah diakui Unesco sebagai warisan dunia, tetapi generasi muda Indonesia tidak mengenalnya. (Mada Mahfud)

 

 

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *