oleh

Diincar Kaum Hawa Berpunya, Picu Kaum Muda Lestarikan Tenun Buna NTT

JAKARTA, MEDIARAJA.com- Untaian zamrud khatulistiwa tak hanya menggambarkan komolekan alam Nusantara, melainkan juga keahlian penduduknya menghasilkan karya penuh pesona. Kain tenun Buna NTT yang penuh warna adalah salah satunya. Diincar kaum hawa berpunya, memicu ketertarikan kaum muda NTT mengembangkan tenun Buna.

Kuatnya pesona warna, corak, dan motif membuat Tenun Buna NTT tak perlu dibentuk menjadi busana yang berpola. Cukuplah dalam bentuk originalnya, sarung selebar 1 meter dengan rumbai-rumbai yang tak dipotong. Sebagian lagi berupa lembaran karena rumbai-rumbai dipotong. Ukurannya 1,6 meter x 1 meter.  Sebagian lainnya berbentuk selendang 1 meter x 15 cm.

Cara mengenakannya dari yang paling sederhana hingga paling rumit. Paling simpel, bagai mengenakan kain sarung, dililitkan dari pinggang ke bawah. Lainnya, bentuk sarung disangkutkan saja ke leher. Tenun pun menggelayuti tubuh atas hingga betis.

Paling rumit, lembaran tenun tebal itu dililit-lilitkan ke tubuh.  Bagian atas menyerupai kemben, lalu lilitan diteruskan hingga bagian atas lutut. Tak perlu lagi ditanya keindahannya, sungguh eksotis.

Lusy Oey salah seorang kolektor,  mengungkapkan pesona tenun Buna NTT. Dalam satu kain saja seringkali ditemui hampir seluruh warna primer dan sekunder. Belum lagi memperhitungkan motif dan corak yang bersenyawa membentuk tenun yang memesona.

Penuh warna dan antar warnanya cenderung bertabrak-tabrakan membuat tenun racikan pengrajin dari Kabupaten Timur Tengah Selatan NTT terlihat sangat kontras. Dampaknya tenun Buna cocok-cocok saja disandingkan dengan busana lain.

“Dengan tenun Buna NTT ini, saya tak lagi mikir matching atau tidak,” cetus pemilik salon Lusy Oey yang berlokasi di Cengkareng, Jakarta Barat tersebut.

Kain Tenun Buna NTT koleksi Lusy Oey (Foto: Mada Mahfud).

Begitu terpukaunya, Lusy pun mengoleksi ribuan lembar tenun Buna NTT. Cara mendapatkannya, dengan rajin-rajin menghadiri setiap pameran kain tenun. Wanita yang bergabung dengan Komunitas Cinta Berkain (KCB) dua tahun lalu ini, tak mau kehilangan kesempatan mendapatkan tenun Buna NTT. Dia khawatir  sulit mendapatkan tenun serupa di kesempatan lain meski harga sepotongnya berkisar hingga jutaan rupiah.

Lusy tak berlebihan karena kain tenun dibuat dengan tangan sehingga tidak ada yang benar-benar serupa. Apalagi kreasi-kreasi baru bermunculan, menambah ragam. “Corak dan warnanya itu macam-macam. Kalau saya melewatkan kesempatan mendapatkan, sulit di lain waktu menemui tenun yang serupa,” papar Lusi yang sejauh ini hanya berfokus pada tenun Buna NTT.

Keindahan tenun yang dikoleksinya membuat Lusi berinovasi. Saat sebuah tenun yang dimilikinya sobek, dia pun tak mau membuangnya begitu saja. Tenun dipotong dan disulapnya menjadi tas dan sepatu.

“Saya buat menjadi tas dan sepatu untuk dipakai sendiri, tetapi banyak yang tertarik dan pesan. Jadinya dibikin lebih banyak lagi. Ini lebih hobi saja,” jelas wanita berdarah Tionghoa ini.

Motif Binatang Hingga Tanaman

Kurator Museum Tekstil Benny Gratha menilai positif munculnya kreasi-kreasi baru tenun NTT. Pada awalnya tenun NTT lebih baku dengan motif binatang seperti komodo, tokek, buaya dan binatang air lainnya. Demikian juga motif aneka tanaman dan bunga. Namun dalam perkembangan terkini sudah sulit dianalisis motif dan susunan warnanya.

“Warna dan motif tenun NTT sekarang sudah banyak menyesuikan selera pasar. Ini baik juga agar perajin bisa hidup,” kata Benny.

Kain Tenun Buna NTT koleksi Lusy Oey (Foto: Mada Mahfud).

Baginya, tenun Buna NTT salah satu tenun terbaik di tanah air. Selain dari warna-warnanya yang berani, teknik membuatnya juga lebih sulit. Seorang pengrajin bisa menghabiskan waktu hingga 6 bulan untuk membuatnya.

Benny menjelaskan pada intinya terdapat tiga jenis tenun NTT yaitu Tenun Ikat, Tenun Sotis, Tenun Buna. Tenun ikat, tidak ada motif timbul di kedua sisi kain. Sedangkan Tenun Sotis, hanya timbul pada satu permukaan tenun saja.

“Sementara Tenun Buna itu motifnya timbul di kedua sisi kain. Jadinya sulit dibedakan sisi dalam dan sisi luar karena hampir sama. Dengan motif timbul di kedua sisi, Tenun Buna menjadi yang paling sulit dibuat,” tambahnya.

Menurut Benny, tradisi Tenun NTT terancam punah karena tak ada alih generasi. Pemuda-pemudi NTT mulai enggan menenun karena pembuatannya yang membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan. Untungnya dengan munculnya komunitas-komunitas pecinta kain, generasi muda NTT mulai terangsang kembali untuk menghasilkan tenun. Sayang, jika salah satu kekayaan budaya nusantara ini hilang. (Mada Mahfud)

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *