oleh

Ganti Dengan Nama Kerajaan, Kabupaten Mempawah Kalbar Pertama di Indonesia

JAKARTA, MEDIRAJA.com: Nama adalah tonggak sejarah dan kunci pelestarian budaya daerah. Tak heran masyarakat Mempawah pada 2011 menghendaki perubahan nama Kabupaten Pontianak menjadi Kabupaten Mempawah, nama eks kerajaan besar di daerah tersebut. Upaya itu berhasil pada 2014, dan langkah tersebut memudahkan Kabupaten Mempawah menggali dan melestarikan budaya warisan leluhur sebagai aset kehidupan dan kemajuan daerah di masa depan.

Sepertinya baru terjadi di Mempawah ini, sebuah kabupaten yang mengubah nama jadi nama kerajaan yang pernah berkuasa di daerah tersebut. Ada juga nama kabupaten yang diambil dari nama eks kerajaan, tetapi kabupaten tersebut adalah hasil pemekaran, bukan ganti nama.

Pada mulanya nama Kabupaten Mempawah adalah Kabupaten Pontianak. Berbagai dinamika yang berkembang di daerah tersebut, membuat masyarakat pada 2011 mengusulkan pergantian nama menjadi Kabupaten Mempawah. Nama Mempawah tentu merujuk Kerajaan Mempawah, sebuah kerajaan besar di Kalimantan Barat dengan berbagai peninggalan termasuk di bidang budaya.

Istana Keraton Amantubillah Mempawah terletak di Pulau Pedalaman, Kabupaten Mempawah (Foto: Mada Mahfud).

Usulan masyarakat tersebut berhasil. Berdasarkan PP Nomor 58 tahun 2014, nama Kabupaten Pontianak diubah menjadi Kabupaten Mempawah. Meski wilayahnya jauh lebih kecil dari wilayah Kerajaan Mempawah pada masa jayanya, perubahan nama ini tentu memudahkan Kabupaten Mempawah untuk menggali dan menggunakan aset budaya bagi kehidupan dan kemajuan daerahnya.

Di Kabupaten Mempawah ini, terdapat aset daerah yang sangat berharga, istana eks sebuah kerajaan, sesuatu yang tidak dimiliki setiap daerah. Bangunan Istana Amantubillah Mempawah hingga kini lestari dengan Rajanya bernama Raja Mulawangsa Dr Ir Mardan Adijaya, MSc dan Ratu Kencana Wangsa Dr Ir Arini Mariam.

Keraton Amantubillah Mempawah masih berdiri kokoh hingga sekarang, menjadi aset berharga Kabupaten Mempawah, termasuk untuk menarik kedatangan wisatawan di masa kini dan mendatang (Foto: Mada Mahfud).

Keraton Amantubillah Mempawah yang dikelilingi sungai besar, jika dikembangkan akan menjadi destinasi wisaya yang sangat menarik. Wisatawan bisa menaiki perahu kecil untuk melihat Keraton Amantubillah seraya menikmati kuliner setempat. Wisatawan yang ingin mengetahui berbagai pusaka juga bisa berkunjung ke Keraton Amantubillah. Pada waktu tertentu, diselenggarakan ritual besar Mandi Pusaka.

Tradisi Robo Robo Kerajaan Mempawah yang rutin digelar setiap tahun, ajang yang potensial menarik minat wisatawan ke Kabupaten Mempawah (Foto: Mada Mahfud).

Tak hanya itu, Keraton Amantubillah memiliki Tradisi Robo Robo yang eksis hingga saat ini. Tradisi yang digelar pada bulan Safar, sangat meriah dengan masyarakat luas berbondong-bondong menuju Muara Mempawah di tepi laut China Selatan.

Saat tradisi Robo-Robo, ratusan kapal nelayan nelayan yang dihias berada di Kuala Mempawah, antri untuk diciprati tepung tawar oleh Raja dan Ratu Mempawah. Para nelayan percaya, cipratan tepung tawar oleh Raja dan Ratu Mempawah adalah berkah saat mereka melaut.

Setelah itu Raja, Pejabat Pemda, dan Masyarakat berkumpul untuk menikmati berbagai budaya yang dimiliki Mempawah. Tak pelak, acara Robo Robo menjadi ajang pelestarian budaya karena masyarakat luas hadir di acara ini. Tradisi Robo-Robo yang sangat meriah juga menarik minat wisatawan.

Raja dan Ratu Mempawah bersama Bupati Mempawah saat merayakan tradisi Robo Robo (Foto: Mada Mahfud).

Di Kabupaten Mempawah juga terdapat Makam Opu Daeng Manambon, tokoh besar Kerajaan Mempawah pada awal abad 17 yang berasal dari Luwu, Sulawesi Selatan dan menikah dengan putri Raja Mempawah. Makam Opu Daeng Manambon berada di Sebukit Rama, selama ini menjadi destinasi wisata religi.

Makam Opu Daeng Manambon di Sebukit Rama, Kabupaten Mempawah (Foto: Mada Mahfud).

Dengan serangkaian kekayaan budayanya, tepatlah jika masyarakat menghendaki perubahan nama Kabupaten Pontianak menjadi Kabupaten Mempawah. Semoga upaya pelestarian dan pengembangan budaya Mempawah semakin gencar dilakukan sebagai aset pengembangan daerah di masa mendatang. (Mada Mahfud)

 

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *