oleh

Majlis Adat Istiadat Diraja dan Gelar Budaya Keraton Djipang ke-3

JAKARTA, MEDIA RAJA-Majlis Adat Istiadat Diraja dan Gelar Budaya Keraton Djipang ke-3 berlangsung khidmat dan meriah. Peserta dari Malaysia dan Singapura khidmat mengikuti prosesi acara dan antusias menikmati tarian adat budaya keraton yang berpusat di Cepu, Blora. Mereka bertekad akan hadir lagi pada acara serupa pada tahun-tahun mendatang guna mendorong pelestarikan adat budaya tiga negara serumpun tersebut.

Sebanyak 60 peserta dari Malaysia dan Singapura turut hadir dalam acara yang digelar di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada 26 Agustus 2019. Majlis Adat Istiadat Diraja dan Gelar Budaya Keraton Djipang ini merupakan gelaran ke-3. Sebelumnya gelaran ke-1 pada tahun 2016 berlangsung di Cepu Blora secara besar-besaran. Sedangkan gelaran ke-2 tahun 2017 berlangsung di Anjungan Jawa Tengah, TMII seperti sekarang ini. Pemilihan TMII ditujukan untuk memudahkan akses bagi peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Rombongan pertama Majlis Adat Istiadat Diraja dan Gelar Budaya Keraton Jipang dari Malaysia dipimpin
YBhg. Dato’ Seri Mohd Fairuz Bin Mohamed Said, Ketua Pengelola Majlis Adat Istiadat Diraja
(Foto: Mada Mahfud)

Kerajaan Djipang berpusat di Cepu Blora Jawa Tengah dengan raja yang paling dikenal, Arya Penangsang. Ia berkuasa pada tahun 1540-an. Wafatnya Arya Penangsang dalam sebuah peperangan, bukan berarti meruntuhkan Kerajaan Djipang. Sang adik, Arya Mataram, berhasil selamat dan melarikan diri ke Sumatera bagian Selatan. Keturunan Arya Mataram inilah yang selanjutnya memimpin kelanjutan Kerajaan Djipang dari sisi adat dan budaya.

Peserta dari Malaysia dan Singapura sebanyak 60 orang hadir di Jakarta dalam beberapa rombongan dalam waktu yang berbeda. Mereka menginap di Hotel Santika Taman Mini Indonesia Indah selama beberapa hari. Mereka tidak langsung pulang ke negaranya selepas acara, melainkan berkeliling ke berbagai anjungan berbagai daerah di TMII yang memerlukan waktu beberapa hari.

Pada acara gelaran Keraton Djipang ke-3 ini, peserta dari Malaysia dan Singapura hadir pada pukul 09.30 WIB di Anjungan Jawa Tengah TMII. Peserta dari negara jiran ini mengenakan busana kebangsawanan Diraja Malaysia dan sebagian lain mengenakan busana hitam putih, biru dan aneka warna lain.

Mereka disambut barisan prajurit Kerajaan Djipang yang berdiri berjajar di sisi kanan kiri gerbang Anjungan Jawa Tengah TMII. Alunan tabuhan rebana adat tradisional Keraton Djipang membahana sebagai ucapan selamat datang. Mereka kemudian memasuki pendopo untuk mengikuti prosesi adat.

Prajurit Kerajaan Djipang berdiri berjajar di gerbang Anjungan Jawa Tengah TMII menyambut kedatangan peserta Gelar Budaya Keraton Djipang ke-3. (Foto: Mada Mahfud)
Musik tradisional mengiringi kedatangan tamu undangan (Foto: Mada Mahfud)

Pendopo dan halaman Anjungan Jawa Tengah TMII sudah ramai dengan peserta lain dari berbagai daerah terutama keluarga besar Kerajaan Djipang. Maklum acara ini didukung penuh Keluarga Besar Keraton Djipang. Mereka antara lain  Lembaga Adat Keraton Djipang Cepu, Keluarga Besar Panembahan Arya Mataram/ Arya Belanga Lubuk Rukam-Peninjauan-Ogan Komering Ulu, Ex Marga Proatin IV Suku I, Lembaga Adat Kepangeranan Arya Jipang Jayakarta, Komunitas Masyarakat Cepu Jakarta, dan Trah Paku Galuh Jakarta.

Selain itu sejumlah Raja Sultan dan tokoh nasional hadir. Mereka antara lain Raja Suku Lime Sumatera Selatan YM Prabu Bur Maras, Raja Turikale Maros YM Andi Mapparessa bersama permaisuri YM Evie Mapparessa, dan Raja Galuh YM Hanif Radinal, dan YM Youdhi Prayogo dari Kesultanan Inderapura. Perwakilan dari Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) antara lain YM Jenny Sarimanella, YM Purbowo, YM Ellen Angkuwa, dan YM KRAy Intan Rumbinang

Dato’ dan Datin dari Malaysia dan Singapura di Pendopo Anjungan Jawa Tengah, TMII menantikan prosesi acara (Foto: Mada Mahfud)

Sementara tokoh nasional yang hadir antara lain Jimly Asshiddiqie, Komjen Pol Imam Sudjarwo, dan Dubes RI untuk Afghanistan Mayjen Purn Arief Rahman. Sedangkan dari pemerintah, hadir Gubernur Jawa Tengah yang diwakili Pejabat Disbudpar Agung Kristianto. Beberapa artis juga turut hadir antara lain Ermy Kullit dan pedangdut Lilis Karlina.

Tokoh nasional yang juga guru besar hukum tata negara Prof Dr Jimly Asshiddiqie (mengenakan peci hitam) memasuki Pendopo Anjungan Jawa Tengah (Foto: Mada Mahfud).
Raja Suku Lime YM Prabu Bur Maras (Foto: Mada Mahfud)
Raja Turikale Sulawesi Selatan YM Andi Mapparessa dan permaisuri YM Evie Mapparessa 
(Foto: Mada Mahfud)

Tak berapa lama kemudian, Raja Djipang YM Pangeran Raja Adipati (PRA) Barik Barliyan Surowiyoto, SH memasuki pendopo yang diiringi sejumlah pejabat Lembaga Adat Keraton Djipang. Acara dimulai dengan alunan lagu Indonesia Raya, semua peserta berdiri.

Raja Djipang YM Pangeran Raja Adipati (PRA) Barik Barliyan didampingi Ketua Lembaga Adat Keraton Jipan Kushariyadi (kanan) memasuki Pendopo Anjungan Jawa Tengah, TMII (Foto: Mada Mahfud)

Setelah itu suguhan sejumlah tarian tradisional Keraton Djipang, memanjakan pengunjung termasuk peserta dari Malaysia dan Singapura. Peserta dari Malaysia banyak yang menggunakan kamera telepon pintarnya untuk merekam penari yang berlenggak lenggok mengikuti irama gamelan.

Sejumlah tarian tradisional Kerajaan Djipang dalam acara Gelar Budaya Keraton DJipang ke-3 di Anjungan Jawa Tengah, TMII, 26 Agustus 2019 (Foto: Mada Mahfud)

Acara dilanjutkan dengan prosesi adat penganugerahan Dato’ dan Datin Kerajaan Djipang di Malaysia. Satu persatu peserta dari Malaysia maju untuk mendapat gelar yang disematkan Raja Djipang YM PRA Barik Barliyan Surowiyoto, SH.

YBhg. Dato’ Seri Mohd Fairuz Bin Mohamed Said, Ketua Pengelola Majlis Adat Istiadat Diraja dan Adat Budaya Nusantara Asia bersama istri YBhg. Datin Seri Nor Azurah Binti Talip bersama Raja Jipang YM PRA Barik Barliyan Surowiyoto, SH (Foto: Mada Mahfud)

YBhg. Dato’ Seri Mohd Fairuz, Ketua Pengelola Majlis Adat Istiadat Diraja dan Adat Budaya Nusantara Asia yang memimpin rombongan dari Malaysia dan Singapura mengaku ini kali ketiga dirinya mengajak rombongan besar untuk mengikuti Gelar Budaya Keraton Djipang. “Pada tahun 2016 saya hadir bersama rombongan warga Malaysia dan Singapura di Cepu Jawa Tengah mengikuti acara ini. Pada tahun 2017 dan 20019 saya kembali hadir mengajak rombongan,” katanya.

Dato’ Paduka Zulnizam dalam prosesi penganugerahan gelar di Majlis Adat Istiadat Diraja dan Gelar Budaya Keraton Djipang (Foto: Mada Mahfud).

Dato’ Alfian Bin Supri dalam prosesi penganugerahan gelar di Majlis Adat Istiadat Diraja dan Gelar Budaya Keraton Djipang.
Dato’ Sazali bin Barso dan istri, Datin Ektevia Edwina Lyn Mapaan dalam prosesi penganugerahaan gelar di Majlis Adat Istiadat Diraja dan Gelar Budaya Keraton Djipang.

YBhg. Dato’ Seri Mohd Fairuz menegaskan pentingnya hubungan Indonesia, Malaysia, dan Singapura sebagai negara serumpun yang memiliki sejumlah kesamaan adat istiadat. Ini disebabkan sebagian warga negara Malaysia dan Singapura dulunya berasal dari Indonesia semasa masih era kerajaan.

“Pada saat era kerajaan, banyak orang  dari Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi datang ke Malaysia dan Singapura. Mereka beranak pinak dan kami termasuk di dalamnya. Maka saya setiap tahun datang dengan membawa rombongan besar mengikuti acara Gelar Budaya Keraton Djipang,” tutur YBhg. Dato’ Seri Mohd Fairuz.

YBhg. Dato’ Seri Mohd Fairuz, Ketua Pengelola Majlis Adat Istiadat Diraja dan Adat Budaya Nusantara Asia saat diwawancarai media televisi terkemuka Indonesia
(Foto: Mada Mahfud).

Ia berharap dengan acara Majlis Adat Istiadat Diraja dan Gelar Budaya Keraton Djipang, pelestarian adat istiadat Nusantara tetap terpelihara. Menurutnya banyak warga Malaysia dan Singapura tertarik untuk datang ke Indonesia guna menikmati acara budaya dan mendatangi situs kerajaan.

Majlis Adat Istiadat Diraja dan Gelar Budaya Keraton Djipang ke-3 ini menjadi sarana pelestarian adat budaya termasuk seni pencak silat (Foto: Mada Mahfud)

“Karena pada dasarnya kita ini memang serupun, jadi wajar kalau kita sangat tertarik mendatangi berbagai tempat di Indonesia yang adat budayanya masih terpelihara,” jelas YBhg’ Dato’ Seri Mohd Fairuz.

YBhg’. Dato’ Seri Mohd Fairuz Bin Mohamed Said, Ketua Pengelola Majlis Adat Istiadat Diraja dan Adat Budaya Nusantara Asia bersama istri YBhg. Datin Seri Nor Azurah Binti Talip di depan Anjungan Jawa Tengah, TMII (Foto: Mada Mahfud)

Tak hanya itu, ia berharap dari jalinan adat budaya, berkembang juga pada kerja sama bisnis. Dengan rombongan peserta dari Malaysia yang kebanyakan berprofesi sebagai pebisnis, terbuka kemungkinan untuk berinvestasi di Indonesia.

“Kami juga sangat tertarik untuk menjalin kerja sama bisnis yang saling menguntungkan,” tambahnya.

YBhg. Dato’ Seri Mohd Fairuz mengaku melalui acara Gelar Budaya Keraton Djipang, ia dan rombongan bertemu dengan pebisnis maupun pejabat asal Indonesia. Pertemuan ini seringkali dilanjutkan dengan kerja sama konkret di bidang bisnis. (Mada Mahfud)

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *