oleh

Kala Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Ditata Bagai Mall

Oleh: Mada Mahfud.

Kesan museum pusaka yang gelap dan menyeramkan, tak akan dijumpai saat mengunjungi Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon. Untuk menarik  kunjungan segala kalangan,  Keraton Kasepuhan menyulap suasana museum pusaka layaknya  mall: terang, segar, sejuk, dan bersih.

Saat memasuki gedung museum, pengunjung akan mendapat sambutan khas hotel. Lima orang wanita layaknya resepsionis hotel, berdiri berjajar di belakang meja front office bercorak ukiran Mega Mendung.

Front Office Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon (Foto: Mada Mahfud).

Melangkah ke dalam museum, sebuah tulisan besar-besar terpampang di dinding bercat putih. Raja Kesultanan Kasepuhan Cirebon, Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat memberikan pesan lewat sebait tulisan, “Kita Ada Karena Leluhur Kita Ada, Hormati dan Rawatlah Pusakanya, Tauladani Gemilang Sejarahnya.”

Sultan Sepuh XIV mengingatkan pentingnya sejarah bagi generasi penerus (Foto: Mada Mahfud).

Dalam ruang museum seluas 1.000 meter persegi, lemari-lemari tertanam di dinding dengan kaca-kaca besarnya. Senjata-senjata pusaka Keraton Kasepuhan ditata sedemikian rupa untuk menarik mata pengunjung.

Dengan hembusan pendingin udara yang sejuk, pengunjung bisa berdiri lama-lama, mencermati setiap lekuk pusaka. Lampu sorot yang terang benderang membuat detil-detil pusaka terlihat jelas.

Pusaka ditata berdasarkan periode waktu, memudahkan pengunjung memahami sejarah Kesultanan Cirebon (Foto: Mada Mahfud).

Keraton Kasepuhan Cirebon menempatkan pusaka berdasarkan periode waktu, dimulai dari koleksi terlama. Dengan cara tersebut, pengunjung seakan memasuki sejarah Keraton Cirebon mulai dari Pangeran Cakrabuana pada masa Galuh Pajajaran, masa Sunan Gunung Jati, hingga Sultan Cirebon setelahnya.

Jejak Sunan Gunung Jati bisa dilihat dari peninggalan pusaka (Foto: Mada Mahfud).

Pangeran Cakrabuana di abad XIII-XIV bisa dikenali lewat tinggalan pusaka antara lain Keris Sempana, Keris Brojol, Keris Sempaner, Keris Pandita Tapa, Keris Santan, dan Keris Bima Kurda.

Senjata khas Sunda yaitu Kujang Wayang pada masa Galuh Pajajaran dengan bentuk yang begitu artistik juga ditampilkan. Badik, senjata yang selama ini identik dengan Sulawesi juga ternyata sudah ada sejak masa putra Prabu Siliwangi ini.

Kujang Wayang, dirancang begitu artistik (Foto: Mada Mahfud).

Masyarakat juga bisa menyaksikan senjata pusaka dari tokoh paling terkenal Kesultanan Cirebon, Sunan Gunung Jati. Tokoh utama penyebar agama Islam di daratan Jawa ini meninggalkan sejumlah pusaka yang dibuat pada masa 1479-1597 M yaitu Keris Mudharang, Keris Dholog, dan Keris Tilam Upih.

Dalam museum ini juga dipamerkan Peti Mesir yang dibawa oleh Sunan Gunung Jati dan Ibundanya dari Mesir ke Cirebon. Sunan Gunung Djati adalah putra pasangan Raja Champa, Sultan Syarif Abdullah dan Nyai Rara Santang, putri Raja Siliwangi.

Tak hanya itu, dengan menelusuri benda-beda pusaka ini, kisah kepahlawanan dalam mengusir kolonialisme juga bisa diteladani. Hal tersebut ditunjukkan dengan meriam, pedang, dan rompi pasukan Portugis yang dirampas Prajurit Kesultanan Cirebon. Dari peristiwa peperangan ini, lahirlah kota Jayakarta yang menjadi Jakarta, Ibukota Republik Indonesia sekarang ini.

Dalam kisah peperangan dengan Portugis, Sunan Gunung Djati atau juga dikenal sebagai Fatahillah memimpin pasukan gabungan Cirebon dan Demak untuk membebaskan Sunda Kelapa dari Portugis. Setelah berhasil mengusir Portugis, Sunda Kelapa diganti namanya menjadi Jayakarta.

“Lewat benda-benda pusaka inilah, kita ingin tularkan semangat kepahlawanan masa lalu atau semangat kemandirian di bumi pertiwi,” tegas Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat kepada Kabare.

Rompi pasukan Portugis hasil rampasan perang, menjadi bukti kisah kepahlawanan perajurit Cirebon dalam melawan kolonialisme (Foto: Mada Mahfud).

Sultan Sepuh XIV mengakui langkahnya membangun Meseum Pusaka yang modern ditujukan kepada generasi muda untuk meneladani masa lalu. Dengan suasana dan desain Museum Pusaka yang rapi, bersih, dan sejuk diharapkan membuat kalangan muda tertarik untuk mempelajari masa lalu sebagai inspirasi ke depan. Tujuannya, lahir generasi yang berkebudayaan nusantara.

“Anak muda sekarang senangnya ke pusat perbelanjaan. Karena itulah kita membuat suasana Museum Pusaka yang mirip pusat perbelanjaan yang rapi, bersih, dan dingin. Kita bangun Museum ini dengan dilengkapi 500 lampu, 60 lemari, dan pendingin udara,” papar Sultan Sepuh XIV.

Pusaka-pusaka ditata dengan rapi dalam ruangan yang bersih, terang, dan sejuk (Foto: Mada Mahfud).

Tak hanya itu Museum Pusaka Keraton Cirebon juga ditujukan untuk menarik minat wisatawan asing. Bandara International Kertajati yang tengah dibangun memungkinkan wisatawan berbagai negara langsung terbang ke Cirebon.

Maka keberadaan Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon, selain untuk sarana belajar generasi muda mengenal budaya leluhur, juga untuk memicu devisa sektor pariwisata budaya. (MM)

 

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 comments

    1. Betul YM, agar pusaka peninggalan leluhur tetap lestari sebagai simbol kearifan lokal. Harapannya kearifan lokal bisa menjadi perilaku masyarakat dan mewujud dalam jati diri bangsa.

  1. sejatinya mari kita mencontoh apa yang telah dilakukan YM Sultan sepuh IX KPA Arief Natadiningrat, tidak harus semewah seperti itu, disesuaikan saja dengan kondisi masing masing.
    buat generasi penerus