oleh

Kebangkitan Kerajaan Jipang, Upaya Melestarikan Kearifan Nilai-Nilai Leluhur

CEPU, MEDIARAJA.com-Kearifan lokal masa lampau membuka kisah tingginya peradaban para pendahulu. Bangunan keraton yang tidak boleh melebihi kemegahan tempat ibadah, menjadi simbol keteguhan pada panduan agama. Acara adat limolasan tiap bulan, diciptakan agar tak ada jarak antara penguasa dan rakyat.

Hembusan angin dari arah Sungai Bengawan Solo mendinginkan terik matahari siang itu.  Pohon-pohon besar seakan kegirangan, daunnya melambai-lambai terhempas angin. Namun lambaian dedaunan justru menambah kesan angker di kawasan yang dikeramatkan warga, pemakaman Gedong Ageng, Desa Jipang, Cepu, Blora yang terletak persis di pinggir Sungai Bengawan Solo.

   Lokasi Cepu di Peta Jawa Tengah

Dalam penelusuran ke makam Gedong Ageng, Mediaraja.com ditemani Kusharyadi, Ketua Lembaga Adat Keraton Jipang dan Prasto Dwi Wahjono, seorang budayawan Cepu. Di tempat inilah, para pembesar Kerajaan Jipang dimakamkan. Sejarah kebesaran masa lalu, membuat para peziarah rela mengunjungi lokasi yang berjarak 5 km dari pusat kota Cepu. Ini tak lepas dari Kerajaan Jipang, sebuah kerajaan vazal pada era Majapahit. Lokasi keraton Jipang terletak di sekitar pemakaman ini.

Mediaraja.com mendapat kisah mengenai Kerajaan Jipang dari tokoh Lembaga Adat Keraton Jipang. Menurut mereka, Kerajaan Jipang sudah ada lebih dulu dibandingkan Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.  Kerajaan Demak diperkirakan berdiri pada tahun 1478 M. Awalnya Raden Fatah menikahi putri Raja Jipang. Pernikahan pendiri Kerajaan Demak dan putri Raja Jipang ini melahirkan Pangeran Surowiyoto.

Pada suatu masa, suasana Demak mengalami kericuhan paska Raja Demak II Adipati Unus meninggal di usia muda. Adik-adik pahlawan Demak dalam perang melawan Portugis ini merasa yang paling berhak melanjutkan kepemimpinan di Demak. Pangeran Surowiyoto sebagai anak kedua Raden Pateh merasa berhak, demikian pula yang lain dengan argumentasinya masing-masing. Dalam sebuah konflik berdarah, Pangeran Surowiyoto tewas di tangan Pangeran Prawoto, seorang putra Pangeran Trenggono. Pangeran Trenggono adalah anak ketiga Raden Fatah.

Konflik antara Pangeran Surowiyoto dan kemenakannya, Pangeran Prawoto terjadi di pinggir sebuah sungai. Tewasnya Pangeran Surowiyoto di sungai menjadinyannya dikenal sebagai Pangeran Sedo Lepen, alias mangkat di sungai. Pangeran Trenggono dan Pangeran Prawoto kemudian berturut-turut menjadi Raja Demak III dan IV.

Pangeran Surowiyoto saat itu memiliki seorang anak lelaki yang masih kecil yaitu Arya Penangsang. Saat dewasa, Arya Penangsang mengetahui kejadian sebenarnya mengenai ayahnya yang disingkirkan dengan paksa, padahal memiliki hak juga untuk bertahta sebagai Raja Demak. Arya Penangsang yang kala itu sudah menjadi menjadi Raja Jipang, menuntut balas. Keinginan Arya Penangsang terkabul, Sultan Prawoto tewas. Ada kisah yang menuliskan Sultan Prawoto tewas di tangan Arya Penangsang, tetapi ada juga kisah lain bahwa yang membunuh adalah prajurit elit Kerajaan Jipang.

Dengan mangkatnya Sultan Prawoto, Arya Penangsang yang juga merupakan anak angkat Sunan Kudus, memindahkan pusat Kerajaan Demak ke Jipang.  Namun kebesaran Kerajaan Demak dengan ibukota di Jipang, hanya berlangsung beberapa tahun saja. Konflik berkelanjutan menewaskan sang Raja Jipang di tangan Sutawijaya. Dalam kisah sejarah, Sutawijaya menggunakan tombak Kyai Plered yang melukai perut Arya Penangsang. Usus Arya Penangsang yang terburai, terpotong oleh Keris Setan Kober milik Arya Penangsang sendiri saat ia mencabut keris legendaris tersebut dari wrangka-nya.

Tentu wafatnya Arya Penangsang, berimbas pula kepada para pengikutnya. Namun tidak secara jelas dikisahkan, apakah terjadi pertempuran lanjutan yang mengakibatkan tewasnya para pembesar Kerajaan Jipang? Namun yang jelas, para pembesar Kerajaan Jipang dikebumikan di makam yang kini dikenal sebagai Makam Gedong Ageng Jipang. Makam inilah menjadi satu-satunya situs Kerajaan Jipang yang masih utuh.

Makam Gedong Ageng yang dikeramatkan membuat segala sesuatunya masih utuh termasuk tata letak batu batanya. Konon ada seorang pembesar pemerintah setempat yang meninggal paska membawa batu bata dari Makam Gedong Ageng. Terlepas benar atau tidaknya, kisah itu membuat Makam Gedong Ageng Jipang makin dikeramatkan masyarakat.

Masyarakat Cepu hingga kini masih mengidolakan Arya Penangsang dan para pembesar Kerajaan Jipang. Masyarakat setempat masih saja hafal sejarah Arya Penangsang, padahal peristiwanya sudah berlangsung lebih dari 500 tahun silam. Untuk mengenang Arya Penangsang, masyaraka Cepu membangun monumen Arya Penangsang dan kudanya yang bernama Gagak Rimang di beberapa tempat di daerah yang dulu dikenal penghasil minyak bumi ini.

Sadar wilayahnya menyimpan potensi besar terkait sejarah masa lalu, pemerintah setempat menjadikan pemakaman Gedong Ageng sebagai cagar budaya.  Kawasan ini akan dibuat bangunan terpadu sebagai pusat pelestarian budaya. Desain bangunan terpampang dalam poster di depan pendopo makam Gedong Ageng.

Masyarakat Cepu juga seiring sejalan. Mereka mendirikan Lembaga Adat Keraton Jipang pada 2014 lalu. Dari Lembaga Adat inilah, mereka menobatkan Barik Barliyan sebagai Raja Jipang yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Raja Adipati (KGPRA) Arya Jipang II. Lembaga Adat Keraton Jipang meyakini Barik Barliyan adalah keturunan Arya Mataram, adik Arya Penangsang yang menyelamatkan diri ke Sumatera Selatan paska kakaknya tewas.

KGPRA Arya Jipang II

Untungnya meski keraton sudah lenyap 500 tahun lalu, pusaka era Kerajaan Jipang masih ada. Lestarinya pusaka karena masyarakat setempat masih menjalankan upacara adat, salah satunya acara limolasan. Dalam acara yang digelar tiap malam tanggal 15 kalender Jawa ini, masyarakat asal Cepu dari berbagai daerah berkumpul di kota minyak ini. Pancaran cahaya bulan purnama membuat upacara adat makin khusuk. Berbagai kegiatan dilakukan termasuk ramai-ramai menjamas atau mencuci benda-benda pusaka seperti keris dan cincin batu akik.

“Pada masa Kerajaan Jipang, acara limolasan menjadi tempat berkumpulnya raja, para pembesar dan rakyat. Mereka berbaur menjadi satu, tujuannya agar tak ada jarak antara raja dengan rakyatnya. Inilah budaya dan kearifan lokal di sini,” kata Kusharyadi, Ketua Lembaga Adat Keraton Jipang

Kearifan lokal lainnya yang ditinggalkan Kerajaan Jipang tersimpan dalam manuskrip kuno. Dalam manuskrip beraksara Jawa ini tertulis panduan bagaimana masyarakat harus bersikap seperti kudu percoyo marang batine dewe yang berarti harus percaya pada hati nurani, sabar narimo pasrah percoyo hening lan temen alias harus sabar, pasrah pada Tuhan dan tekun. Hebatnya mereka sudah mengajarkan anti rasis dan toleran dengan tuntunan ojo ambedake liyo sepodo yang berarti jangan membeda-bedakan orang.

Manuskrip Kerajaan Jipang masih utuh dan terpelihara

Kerajaan Jipang juga mewariskan nilai luhur mengenai kehidupan sehari-hari yang harus senantisa bersandar pada Tuhan. Hal itu tercermin dari bangunan keraton yang tidak boleh melebihi ukuran tinggi dan kemegahan masjid.

KGPRA Arya Jipang II mengaku upaya melahirkan kembali Kerajaan Jipang tidak dimaksudkan untuk merebut kekuasaan eksekutif. Kerajaan Jipang sekarang ini hanyalah upaya mendorong pelestarian  nilai-nilai luhur para pendahulu dan mewariskan pada generasi muda. Harapannya bangsa ini tak kehilangan jatidiri ditengah hilir mudiknya budaya negara lain memasuki kehidupan negeri ini. (Mada Mahfud)

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *