oleh

Keraton Deposit Budaya Tak Ternilai

Keraton yang tersebar di berbagai daerah di nusantara adalah deposit budaya yang tak ternilai. Seiring dengan makin menipisnya sumber daya alam, kekayaan budaya keraton bisa digali sebagai sumber kesejahteraan masyarakat Indonesia

Keberadaan keraton sebagai deposit budaya dengan potensi besar bagi kesejahteraan masyarakat mengemuka dalam Dialog Budaya Keraton Nusantara yang diselenggarakan Kabare Media Group. Dialog dengan tema “Mencari Peran Baru Keraton Nusantara” berlangsung 29 November 2016.

Dialog menghadirkan narasumber Direktur Ketahanan Ekonomi Sosial dan Buudaya Kementrian Dalam Negeri Bahrum  Alamsyah Siregar,  Sekjen Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Se-Nusantara Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari alias Gusto Moeng, dan  Ketua Sejarawan Indonesia Mukhlis PaEni.

Hadir dalam dialog ini sejumlah Raja dan Sultan dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka antara lain Raja Gowa ke-37 Andi Madussila Daeng Manyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II, Pemangku Sultan Bulungan Datu Abdul Hamid, Raja Nagan Aceh Teuku Raja Zulkarnaini dan Panglima Kerajaan Nagan Syamaun Datok WH, Ratu Rustuti Rumagesan dari Kerajaan Kokoda Papua,  perwakilan Kerajaan Cantung Yanuar Imam, dan Fiona Tanzil dari Kerajaan Siau.

Sejumlah utusan dari asosiasi keraton juga hadir seperti Plt Sekjen Forum Silaturahim Keraton Se-Nusantara RA Yani S Kuswodijoyo dan Sekjen Yayasan Raja Sultan Nusantara Masud Thoyib Adiningrat.

Sementara perwakilan dan trah berbagai keraton juga hadir seperti KRAy Sritapi Suryoadiputri dari Pakualaman, Pocut Haslinda dari Kerajaan Samalanga, Anak Agung Mataram dari Puri Agung Karangasem, dan Kanjeng Pangeran Eddy Wirabumi dari Kasunanan Surakarta.  Kementrian Dalam Negeri juga diwakili Kepala Pusat Penerangan Dodi Ryadmadji.

Reza Valdo Maspaitella, Pemimpin Umum Kabare Media Group dalam sambutannya menyatakan keberadaan keraton di berbagai daerah di Indonesia sangat penting bagi pengembangan budaya Indonesia ke depan.  Untuk itu peran keraton perlu dibangkitkan kembali sehingga Indonesia bisa menemukan jati diri bangsanya.

Reza merujuk pada kejayaan nusantara di era Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Mataram Hindu, dan Kerajaan Majapahit. Pada masa itu, nusantara menjadi pusat peradaban kawasan.

“Secara pemerintahan, keraton memang tidak lagi memiliki peran. Namun dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, keraton adalah sumber kebudayaan yang perlu terus digali sebagai sumber inspirasi bagi kemajuan bangsa,” kata Reza Maspaitella.

Reza menegaskan Kabare Media Group dengan tagline “Inspiring Culture Media” akan menjadi jembatan bagi Raja dan Sultan untuk kembali menemukkan peran barunya dalam NKRI sekarang dan di masa depan. “Raja dan Sultan adalah simbol budaya dan penggalian budaya keraton perlu dilakukan sehingga budaya yang terbentuk selama ratusan tahun bisa tetap lestari dan memberikan sumbangan bagi kemajuan bangsa,” tegas Reza.

Gusti Moeng, Sekjen Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Nusantara (FKIKN) menyatakan Kerajaan dan Kesultanan adalah pembentuk budaya nusantara. Hal tersebut terjadi karena Kerajaan dan Kesultanan telah berumur ratusan tahun, sementara Indonesia sebagai negara, baru berumur 71 tahun.

Karena itu Gusti Moeng mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk membantu keraton agar mampu melestarikan budaya leluhurnya. “Melestarikan budaya itu tidak mudah dan perlu dukungan secara finansial dari pemerintah karena Keraton sekarang ini sudah tidak berkuasa seperti masa lalu. Dukungan pemerintah baik pusat dan daerah belum optimal, banyak keraton yang masih diabaikan,” kata Gusti Moeng yang berasal dari Kasunanan Surakarta.

Bahrum  Alamsyah Siregar, Direktur Ketahanan Ekonomi Sosial dan Budaya Kementrian Dalam Negeri mengakui besarnya peran Kerajaan dan Kesultanan dalam melahirkan NKRI.  Pasca Kemerdekaan RI diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman menyatakan bergabung dengan NKRI melalui maklumat 5 September 1945.

“Dengan pernyataan bergabungnya wilayah Yogyakarta ke NKRI memiliki nilai strategis. Negara RI yang baru merdeka tersebut memiliki wilayah kedaulatan, dan langkah ini pun kemudian diikuti wilayah-wilayah lain termasuk negara-negara atau kerajaan-kerajaan di nusantara yang dibentuk Belanda,” kata Bahrum.

Bahrum menegaskan Pemerintah RI tidak melupakan jasa besar Kerajaan dan Kesultanan. Serangkaian peraturan telah dibuat untuk mendukung peran Keraton di Indonesia sebagai pelestarian dan pengembangan budaya.

Dia  merujuk UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 39 Tahun 2007 tentang Pedoman Fasilitasi Organisasi Kemasyarakatan Bidang Kebudayaan, Keraton, Lembaga Adat Dalam Pelestarian dan Pengembangan Budaya Daerah. Demikian juga dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 52 Tahun 2007 tentang Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat.

Dalam Permendagri No 39, disebutkan pemerintah melalui Pemerintah Daerah mendanai penyelenggaran kegiatan pelestarian dan pengembangan budaya termasuk yang dilakukan Keraton. “Dari sisi pendanaan sebenarnya tidak menjadi masalah, tinggal bagaimana mekanisme pengajuan anggaran antara Keraton dan Pemerintah Daerah,” tegas Bahrum.

Sementara itu Ketua Sejarawan Indonesia Mukhlis PaEni menyatakan Indonesia harus menjadikan Keraton sebagai deposit budaya terkait upaya mensejahterakan masyarakat. Selama ini negara ini lebih berfokus pada deposit Sumber Daya Alam.

“Deposit Sumber Daya Alam mungkin akan habis dalam waktu 50 tahun lagi, karena itu saatnya beralih untuk menggali deposit budaya,” kata Mukhlis.

Mukhlis menegaskan hal yang berbeda antara deposit SDA dan deposit budaya. Deposit Budaya semakin digali semakin berkembang.

“Perlu puluhan excavator untuk menggali kekayaan budaya Keraton. Bahkan semakin digali, kekayaan budaya semakin berkembang. Ini bisa menjadi mata uang baru bagi kesejahteraan Indonesia ke depan,” tutur Mukhlis. (Mada Mahfud)

 

 

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *