oleh

Keraton, Karaton, atau Kraton, Mana yang Benar?

Meskipun terlihat sepele, penulisan keraton atau karaton sering menjadi diskusi di forum-forum keraton. Penulisan yang dikenal luas dan baku adalah keraton, namun ada juga yang  menolaknya karena risih terselip kata “kera” sehingga lebih memilih penulisan karaton atau kraton.

Istilah keraton memang cukup unik jika dibandingkan dengan istana. Keduanya punya arti yang sama yaitu tempat kediaman raja. Jika kata istana tak jadi perdebatan, kata keraton menjadi rumit. Ini karena keraton berasal dari serapan bahasa Jawa yang tata bahasa dan pengucapan tidak selalu sinkron dengan tata bahasa Indonesia.

Bahkan kerumitan sampai menjalar ke FSKN, ormas yang cukup dikenal terkait dengan isu-isu keraton. Dalam sejumlah dokumen FSKN, kadang tertulis keraton, kadang tertulis karaton.

Berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun WJS Purwadarminta yang diolah kembali oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, kata keraton berasal dari serapan bahasa Jawa yang bermakna istana raja/ratu. Dalam kamus ini, tidak dicantum kata karaton atau kraton. Jadi jelas bahwa kata yang baku adalah, keraton.

Wajar saja jika Kamus Umum Bahasa Indonesia memilih keraton. Keraton jika ditulusuri berasal dari kata ratu yang mendapat imbuhan dan akhiran ke-an. Jadilah keratuan dan akhirnya menjadi umum dengan istilah keraton.

Hal ini mirip dengan dengan kata kedaton, kedatuan atau kedatun yang populer di sebagian tempat. Ketiga kata ini berasal dari kata “datu” yang tak lain adalah raja atau ratu. Jadi ada awalan dan akhiran ke-an, tetapi sebagian melebur menjadi kedatun atau kedaton.

Jika kedatuan dan kedatun marak di luar Jawa, maka istilah kedaton lebih dikenal di Jawa. Proses terciptanya kata keraton dan kedaton, sangat mirip.

Di Sumatera misalnya, istilah kedatun cukup dikenal. Kedatun Keagungan Lampung misalnya lebih memilih kata kedatun. Sedangkan di Luwu Sulsel lebih populer istilah kedatuan seperti contohnya Kedatuan Luwu. Anehnya di Jawa, kata datu tak populer, namun kata kedaton sangat populer.

Uniknya jika kedaton, kedatuan atau kedatun, tak menimbulkan masalah, istilah keraton menjadi permasalahan tersendiri di sebagian kalangan. Munculah kemudian modifikasi menjadi karaton atau kraton. Padahal di sisi lain, jarang ada yang memunculkan istilah kadaton sebagai padanan karaton.

Sebagian kalangan menganalisis, keraton tak tepat karena ada kata “kera” sehingga keraton berarti istana para kera. Apakah karena alasan ini sehingga kemudian memilih kata karaton atau kraton?

Uniknya lagi jika keraton di permasalahkan, kenapa kata kerajaan tak dipermasalahkan, bukankah kedua kata ini mirip? Wow pusing juga ya. (Mada Mahfud)

 

 

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 comments

  1. Yang benar KRATON, lihat negara Kertagama dalam setiap penyebutan Kraton Majapahit.Demikian juga Kraton Solo, tidak ada Keraton Solo, juga Kraton Yogyakarta hadiningrat, bukan Keraton Yogya. Kraton Cirebon, Kraton Banten dst