oleh

Kesultanan Kanoman, Pelestari Budaya Cirebon

Oleh: Mada Mahfud.

Di balik pasar tradisional Kanoman, terhamparlah pusat peradaban Cirebon di masa lalu, Keraton Kanoman.  Masih kental pesona kemegahan fisiknya. Dengan segala keterbatasan, Keraton Kanoman masih teguh menjalankan acara-acara budaya warisan leluhur.

Pasar Kanoman yang sesak di jam-jam sibuk pasar menjadi akses utama menuju Keraton Kanoman.  Jalanan selebar enam meter, terasa menyempit dipenuhi lapak-lapak pedagang yang menjajakan ikan dan sayur mayur. Tenda-tenda biru dipasang pedagang di sana sini untuk melindungi diri dari ganasnya mentari kota udang ini.

Pasar Kanoman, Pintu masuk menuju Keraton Kanoman (Foto: Dhodi Syailendra)

Namun selepas pasar tradisional, pemandangan kontras tersaji. Bagai memasuki lorong waktu di masa lampau, terhamparlah sebuah pusat peradaban di masa lampau yang megah seluas 6 hektare, Keraton Kanoman. Baris depan, tumbuh tiga pohon beringin raksasa dengan cabang dan rantingnya yang rindang. Berada di bawah pohon beringin, terasa begitu sejuk, kita seakan lupa berada di daerah pesisir utara Jawa dengan udara panas menyengat. Beringin dalam adat Jawa masa lalu adalah lambang pengayoman dan kewibawaan.

Lebih ke dalam, sekumpulan bangunan berwarna putih dengan arsitektur dan tata letak yang memukau. Sebuah gerbang menjadi point of interest. Dialah Lawang si Blawong yang berukuran tinggi 9 meter, lebar 5 meter dan tebal 2 meter.

Gerbang si Blawong Keraton Kanoman (Foto: Dhodi Syailendra)

Sementara di selatannya, Made Manguntur menjadi pusat area Siti Inggil alias tanah tinggi. Berukuran 6,5 meter x 6,5 meter, Made Manguntur adalah tempat raja menyaksikan upacara adat. Layaklah jika  didesain paling indah. Bangunan berundak dua dengan delapan pilar yang melengkung ini menjadi puncak seni tempel piring keramik di Keraton Kanoman. Berbagai keramik kuno asal Tiongkok dengan ukuran dan motif yang berbeda ditata dan ditanam apik dalam pilar-pilar.

Moleknya bangunan Keraton Kanoman menjadi tak mengherankan jika menilik sang arsitek. Menurut Ratu Arimbi, Sekretaris Kesultanan Kanoman, bangunan keraton di rancang Sultan Ageng Tirtayasa pada 1677.  Sultan paling masyhur di era Kesultanan Banten ini adalah kerabat dekat Keraton Kanoman.

Area depan Keraton Kanoman Cirebon (Foto: Dhodi Syailendra).

Tak sekedar bangunan fisiknya yang bercita rasa seni tinggi, Keraton Kanoman juga memiliki upacara adat yang sarat dengan nilai-nilai budaya. Berbagai upacara adat hingga kini masih dijalankan keturunan Sunan Gunung Jati yang menjadi pewaris Keraton Kanoman.

Saat kami berkunjung untuk melakukan peliputan, Keraton Kanoman tengah menggelar upacara adat Munggahan. Prosesi adat Munggahan terkandung nilai penyucian diri sebelum umat Muslim menjalankan puasa. Nuansa islami begitu merebak, maklum Kesultanan Cirebon adalah perintis dakwah Islam di Pulau Jawa bagian barat semenjak era Sunan Gunung Jati.

Munggahan berlangsung mulai pukul 20.00 WIB di alun-alun keraton. Sebuah panggung besar menjadi tempat Pangeran Raja Muhammad Qodiran, Patih Kesultanan Kanoman memimpin jalannya acara. Sementara Sultan Kanoman XII, Pangeran Raja Mochammad Emirudin duduk di baris terdepan tribun kehormatan menyaksikan prosesi berlangsung dari menit ke menit.

Sebuah iring-iringan peserta mengular dengan ujung depan berada tepat di mulut panggung.  Sementara ekor iring-iringan hanya terlihat di balik kelap kelip obor minyak di ujung alun-alun. Tak kurang 500 peserta upacara adat terlibat, terbagi berbagai kelompok umur mulai dari dewasa hingga anak-anak. Mereka berasal dari abdi dalem dan masyarakat sekitar. Sementara ratusan penonton menyaksikan dari pinggir alun-alun.

Tradisi Munggahan menjelang puasa di Keraton Kanoman (Foto: Dhodi Syailendra).

Setelah meminta restu Sultan, Patih Kanoman memimpin prosesi Munggahan. Patih lalu menyerahkan bendera pusaka keraton kepada pimpinan arak-arakan. Mereka bergerak meninggalkan keraton menuju pusat kota Cirebon dengan tujuan mengajak masyarakat untuk mempersiapkan diri jelang puasa sebulan penuh.

Hal unik dari setiap upacara adat di Keraton Kanoman adalah adanya air dari 7 sumur keramat. Sumur-sumur keramat ini terletak di kebun belakang Keraton Kanoman. Air dimasukkan ke dalam kendi yang akan dipecahkan dalam setiap puncak prosesi adat.

Saat Munggahan pun, iring-iringan membawa sebuah kendi besar yang ditandu. “Kendi berisi air 7 sumur ini akan dipecahkan di perempatan, di pusat kota Cirebon,” kata Pangeran Raja Muhammad Qodiran, Patih Kesultanan Kanoman.

Keberadaan air 7 sumur keramat dalam setiap prosesi adat adalah lambang penyucian diri. Sementara angka tujuh bermakna kelanggengan. “Nilai-nilai yang dibawa dari air 7 sumur adalah kita perlu menyucikan diri agar kehidupannya langgeng. Maksud suci dalam arti luas adalah janganlah kita korupsi, serakah, atau memanfaatkan jabatan untuk kepentingan diri sendiri,” ungkap Pangeran Qodiran.

Pangeran Raja Muhammad Qodiran – Patih Kesultanan Kanoman (Foto: Dhodi Syailendra).

Acara Munggahan hanyalah salah satu dari lebih 30 upacara adat yang digelar rutin tiap tahun di Karaton Kanoman. Acara lain seperti Babad Cirebon, Memayu Keraton, Panjang Jimat, Pisowanan, dan Grebeg Agung.

Dari semua upacara adat,  Panjang Jimat yang paling menyita perhatian. Butuh 12 hari di bulan Maulud untuk menggelar acara ini. Puncaknya berlangsung pada tanggal 11 Maulud ditandai dengan penjamasan atau penyucian benda-benda pusaka. Pada saat itulah, gerbang Lawang si Blawong dibuka sekali dalam setahun. Setiap pusaka harus melewati gerbang keramat ini.

Sultan Kanoman XII Pangeran Raja Mochammad Emirudin bertekad terus melanggengkan acara-acara adat warisan leluhur dalam situasi sesulit apapun. “Kerajaan dalam arti sekarang adalah simbol budaya dan tata nilai. Itulah kenapa kita akan terus menggelar acara adat yang penuh nilai-nilai kebaikan. Ini sudah perintah leluhur kami dan harus terus dijaga sampai kapanpun,” tegas Sultan Emirudin yang memimpin Kesultanan Kanoman sejak 2004.

Sultan yang kini berusia 44 tahun ini mengakui berbagai kendala dihadapi mereka. Maklum menggelar sekitar 30 acara adat tiap tahun membutuhkan dana besar, sementara pemasukan keraton di era republik makin mengecil.

Sultan mengungkapkan biaya acara-acara kebudayaan sebagian besar berasal dari penyewaan tanah milik keraton. Pasar Kanoman misalnya adalah aset Keraton Kanoman yang disewa Pemkot Cirebon.

“Kita sedang menata ulang semua aset-aset tanah keraton. Saya sudah memerintahkan adik-adik saya menata ulang semua aset ini,” tutur Sultan Emirudin.

Sultan Raja Moch Emirudin, Sultan Kanoman XII (Foto: Dhodi Syailendra).

Kesultanan Kanoman sepertinya enggan membahas bantuan pemerintah. Mereka menilai pemerintah masih belum peduli pentingnya menjaga budaya sehingga acara-acara keraton masih dianggap hanya kewajiban keraton semata.

“Kita tidak mau mengemis kepada pemerintah. Seharusnya pemerintah juga berkewajiban melestarikan adat budaya negeri ini, salah satunya di keraton. Kalau kita diperlakukan seperti pengemis, bagaimana dengan kehormatan kita,” ujar Pangeran Qodiran, patih yang juga adik kandung Sultan Emirudin.

Selain upacara adat, Keraton Kanoman juga bertekad membangkitkan seni budaya keraton yang selama ini terpendam. Seni tari Lima Wanda dan Nitirasa mulai dipentaskan kembali. Demikian juga dengan batik Keraton Kanoman.

“Batik Cirebon asalnya dari keraton. Masih banyak motif-motif batik keraton yang hilang karena tidak ada inventarisasi selama ini. Kita sudah mulai menghidupkan kembali,” kata Ratu Arimbi, Sekretaris Keraton Kanoman sambil menunjukkan tumpukan batik yang baru saja dibuat dua pegawai keraton.

Masih lestarinya tradisi bergulir, tak pelak menjadikan Keraton Kanoman pantas menyandang pelestari tradisi budaya Cirebon. (MM)

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *