oleh

Majelis Keturunan Tomanurung, Satukan Trah Asli Keluarga Besar Raja se-Sulawesi Selatan

MAKASSAR, MEDIARAJABertujuan menjaga nilai-nilai budaya, trah asli Kerajaan se-Sulawesi Selatan mendirikan Majelis Keturunan Tomanurung. Wadah ini diharapkan mendorong gencarnya silaturahim antar keluarga kerajaan, sehingga meminimalkan munculnya oknum yang mengatasnamakan kerajaan.

Pendirian Majelis Keturunan Tomanurung diinisiasi almarhum Andi Maddusila Raja Gowa ke 36, Datu Luwu XL H Andi Maradang Mackulau, Drs A Pamadengrukka Mappanyompa Arung Amali, Datu Suppa Ke 30 Hj.Andi Dala Uleng Bau Massepe, dan Bau Malik.  “Terbentuknya Majelis Keturunan Tomanurung ini karena kondisi munculnya oknum yang mengatasnamakan kerajaan yang merugikan nilai-nilai budaya dan trah asli kerajaan,” kata Drs Andi Pamadengrukka Mappanyompa Arung Amali, selaku Ketua Majelis Keturunan Tomanurung seperti dalam siaran pers yang diterima Mediaraja.com.

Kehadiran Majelis To Manurung ini memiliki tugas mulia sebagai wadah silaturahmi antar keluarga, mempersatukan kerajaan dan kedatuan serta pemangku adat se Sulawesi Selatan skala nasional dan Internasional yang sudah mulai pudar.  Majelis Keturunan To Manurung Sulawesi Selatan ini sendiri telah mendapat legalitas Keputusan Menteri Hukum dan H.A.M. RI Nomor : AHU 0005580-AH01.07 Tahun 2019.

“Raja-raja yang pernah memerintah di kerajaan besar seperti Bone, Gowa dan Luwu adalah Tomanurung, yang berarti orang yang diturunkan dari langit oleh Yang Maha Kuasa untuk memperbaiki keadaan yang kacau balau pada waktu itu. Pada era kini, Majelis Keturunan To Manurung ini akan menjadi mitra pemerintah dalam pengembangan budaya dan pembangunan ekonomi di wilayah kerajaan,” jelas  Drs Andi Pamadengrukka Mappanyompa Arung Amali.

Ketua Majelis Keturunan To Manurung Drs.A.Pamadengrukka dan permaisuri, bersama Datu Suppa ke-30 Hj.Andi Dala Uleng Bau Massepe bersama Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah seusai pengukuhan (Foto: Ist)

Datu Luwu ke XL H.Andi Maradang Mackulau Opo To Bau dalam sambutannya menyatakan bahwa menjadi bangsawan itu bukan hal mudah. “Pertama dia harus memiliki sifat dan pribadi bangsawan,  yang terpuji, sopan santun, saling menghargai, lalu tentu memiliki garis keturunan bangsawan,” ujar Datu Luwu ke-XL.

Pengukuhan pengurus periode 2018-2022 dilakukan Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah. Pengukuhan berlangsung di Baruga Pattinggaloang yang merupakan Rumah Jabatan Gubernur. “Adanya kemajuan teknologi informasi yang ada seperti facebook, twitter yang dengan mudah menyebar luaskan berita-berita berbau hujatan, saling menghina, dan menjatuhkan  bukan budaya Bugis-Makassar. Hadirnya Majelis Keturunan To Manurung diharapkan menjadi organisasi induk dan perekat dalam menegakkan kembali nilai-nilai luhur budaya kita seperti sipakatau dan sipakalebbi,” kata Gubernur dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Nurdin Abdullah menyebutkan akan membuat Peraturan Daerah terkait penguatan budaya di Sulawesi Selatan, dan akan berkordinasi dengan Bupati-Bupati untuk memperkuat keberadaan Majelis Keturunan Tomanurung di daerah-daerah.

Pengukuhan ini juga dihadiri Plt.Walikota Makassar Iqbal Suhaeb, A.M.Yamin, Brigjen Pol A.Latif Mapparessa (Wakil FSKN Pusat), Aminuddin Salle (Tokoh adat), Prof.Dr.H.Paturungi Parawansa, Andi Bau Rum (Mantan Bupati Barru), Prof Halilitar Latief, H.Andi Makmun Bau Tayang (Kerajaan Gowa), Andi Makmur Sadda dan beberapa pewaris tahta dan keturunan Arung dan Datu Se-Sulawesi Selatan yang berjumlah kurang lebih 200 peserta.

Sedangkan Andi Sirajuddin Oddang, selaku Ketua Panitia menyatakan acara pengukuhan pengurus  dan rapat kerja dirangkai dengan dialog kebudayaan. Acara dialog dihadiri pakar budaya seperti pakar sejarah Universitas Hasanuddin Suriyadi Mappangara dan Prof Halilintar Latief. “Majelis Keturunan Tomanurung sendiri dideklarasikan pada 27 Januari 2018 di Hotel Singgasana Makassar,’ papar Andi Sirajuddin Oddang.

Dalam AD/ART Majelis Keturunan To Manurung bahwa memiliki Visi untuk senantiasa menjaga nilai-nilai kebudayaan Sulawesi yang terdiri dari suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja sebagaimana yang diamanahkan Undang-Undang Kebudayaan No 5 tahun 2017 dengan menjunjung tinggi Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. Misi dari majelis ini yang paling utama adalah menyatukan semua rumpun keluarga dan etnis bangsawan se-Sulawesi Selatan, termasuk trah asli dari kerajaan-kerajaan yang ada. Organisasi ini membina keluar agar mampu mandiri, mengangkat potensi daerah-daerah berbasis kerajaan dan kebudayaan untuk pengembangan ekonomi kreatif, serta membangun semangat gotong royong, bagi bangsawan se Sulawesi Selatan. (Mada Mahfud)

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *