oleh

PNA Masud Thoyib Mimpikan Renaisans Indonesia

Oleh: Mada Mahfud.

Tak sekadar ngalor ngidul dalam aktifitas budaya ke berbagai daerah di Indonesia, PNA Masud Thoyib JA mengerti benar tujuannya. Budayawan yang turut membangun Taman Mini Indonesia Indah dari nol ini, memimpikan Indonesia kembali menjadi salah satu pusat peradaban dunia seperti yang pernah terjadi di zaman Kerajaan Sriwijaya, Mataram Kuno, dan Kerajaan Majapahit.  Ia menamainya sebagai Renaisans Indonesia.

Berbincang isu-isu budaya akan membawa Pangeran Nata Adiguna (PNA) Masud Thoyib JA rela menghabiskan berjam-jam dan enggan lepas dari tempat duduknya. Ia begitu piawi menceritakan kepulauan Nusantara dari abad pertama hingga abad 21. Rupanya puluhan tahun turut mengembangkan TMII, membuatnya menyerap berbagai hal tentang Nusantara dari berbagai kalangan. Maklum TMII menjadi miniaturnya Indonesia.

Baca juga: http://mediaraja.com/ini-dia-ormas-keraton-terdaftar-yang-dilaporkan-mendagri-ke-presiden/

PNA Masud juga seorang kutu buku. Saat mediaraja.com mengunjungi kediamannya berlantai empat yang luas di Pondok Gede, ribuan buku berjejer di sekujur dinding. Sementara di lantai 3, aneka buku terbitan dalam dan luar negeri berserakan di lantai.

“Kalau berserakan seperti ini, berarti buku-buku tersebut tengah saya baca,” kata bapak tiga puteri ini.

Kecintaannya terhadap budaya diwujudkan pula dengan bangunan rumahnya yang mengadopsi model candi. Hal paling unik, di atas lantai empat, dibangun candi berukuran lebih kecil yang bertingkat lima.

“Nenek moyang kita itu membuat bangunan yang indah-indah, kenapa kita tidak mengikutinya. Sekarang ini bangunan-bangunan di Indonesia mengadopsi budaya asing, modelnya kotak-kotak, kayak kandang burung dara saja. Jadi gersang dari sudut pandang batin,” jelasnya.

PNA Masud juga mendirikan bangunan mirip istana kerajaan tempo dulu, tepatnya di sebelah timur tembok Museum Lubang Buaya di Pondok Gede. Bangunan berlantai lima tersebut seluruhnya terbuat dari kayu. Ia menamai bangunan tersebut sebagai Kedaton Nusantara.

Masyarakat setempat lebih mengenal tempat ini sebagai tempat praktik Ki Joko Bodo, paranormal terkenal. Padahal Ki Joko Bodo, kata PNA Masud, pada awal karirnya, hanya menyewa sepotong lahan dengan mendirikan bangunan kayu, persis di sebelah Kedaton Nusantara.

“Kedaton Nusantara ini sebenarnya bangunan dari Sulawesi Tenggara. Dulu pernah menempati salah satu anjungan di TMII. Saat anjungan direnovasi, bangunan ini saya selamatkan dan dipindahkan ke sini,” cetusnya.

Di Kedaton Nusantara pun,  buku berjejer memenuhi rak-rak kayu. Sedangkan dindingnya di penuhi poster raja-raja dari berbagai daerah di Nusantara. Ada ruang bernama ruang Bung Karno. Isinya poster besar Bung Karno dengan buku-buku pemikiran tokoh pendiri bangsa.

“Bagi yang ingin belajar tentang Bung Karno, boleh tidur di ruang ini sambil-sambil baca-baca buku. Nanti juga akan kita buatkan ruang Pak Harto,” katanya.

Sejumlah miniatur berbagai bangunan ajaib dunia seperti Candi Borobudur, Menara Pisa, Colosseum Roma, Taj Mahal dan miniatur lainnya memenuhi meja-meja. Ia menertawai diri sendiri, mirip seorang tua yang tak bahagia di masa anak-anak sehingga mengoleksi berbagai miniatur.

“Istri saya kadang kesal karena miniatur ini memenuhi ruangan di tempat ini dan bilang kalau saya masa kecilnya tak bahagia,” aku PNA Masud dengan terkekeh-kekeh.

PNA Masud mengaku hal-hal yang dilakukannya terbingkai pada mimpinya akan Renaisans Indonesia. Ia mengacu Eropa yang menjadi kawasan termaju dunia karena gerakan Renaisans. Menurutnya, kebangkitan Eropa terjadi saat mereka meninggalkan masa kegelapan dengan keberhasilan Renaisans. Eropa pada abad 4 SM (Sebelum Masehi) sudah menjadi pusat peradaban dunia dengan cendikiawan seperti Aristoteles, namun abad 0-6 Masehi justru mengalami kemunduran.

Eropa kemudian bangkit mulai abad 14 dengan gerakan Renasains dan akhirnya menjadi pusat peradaban dunia. Inilah masa keemasan Eropa untuk kedua kalinya.

“Indonesia dulunya juga pernah menjadi pusat peradaban dunia pada zaman Sriwijaya, Mataram Kuno, dan Majapahit. Seperti halnya Eropa yang lahir kembali, Nusantara yang sekarang ini Indonesia, juga bisa bangkit kembali dengan melahirkan para pemikir berkarakter,” jelas PNA Masud.

Sejumlah upaya dilakukan untuk menghubungkan kejayaan masa lampau dan mendorong kegemilangan Indonesia di masa depan.  Pada tahun 2009, PNA Masud membentuk Badan Pekerja Silaturahmi Raja Sultan Nusantara (BP Silatnas). Selanjutnya ia turut mendirikan Majelis Cendikiawan Keraton Nusantara, Yayasan Raja Sultan Nusantara (Yarasutra), Barisan Adat Raja Sultan Nusantara (Baranusa), dan Majelis Agung Raja Sultan Indonesia (Mars Indonesia).

Jika sebagian besar organisasi yang turut dibangunnya beranggotakan para raja sultan, maka MCKN beranggotakan para cendikiawan. Dia berharap MCKN membesar dan melahirkan para pujangga yang berjati diri Nusantara. Tujuannya mendorong Indonesia pada kegemilangan masa depan, mengulang kegemilangan zaman Kerajaan Sriwijaya, Mataram Kuno, dan Majapahit. (MM)

 

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *