oleh

Mengenal Kerajaan Suppa (1)

  • Oleh: Drs Andi Rimba Alam, MSi
  • (Mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gowa)

Sejarah merupakan suatu peristiwa penting karena memiliki arti dan juga makna terhadap khalayak ramai serta memiliki pengaruh besar dalam perjalanan manusia yang melaluinya. Kerajaan Suppa atau Kedatuan Suppa adalah salah satu Kerajaan Suku Bugis yang disegani di wilayah Ajatappareng dan didaerah Sulawesi Selatan, Setelah kemerdekaan kini Kerajaan Suppa merupakan wilayah Kabupaten Pinrang Propinsi Sulawesi Selatan. Kerajaan Suppa sendiri dapat dilihat asal usulnya dalam Lontaraq I Lagaaligo yang disebutkan dengan toloqna  Iyarega minruranna Suppa.

Sejarah Berdirinya

ManurungngE ri Bacukiki adalah seorang eksplorer, sekagus seorang visioner kemunculannya sekitar tahun 1500. Beliau tidaklah serta merta menjadi raja ditempat ia tiba. Dalam proses kemunculannya, ia mempersunting Tokoh Dewata setempat.

Beliau melakukan pengembaraan seputar kawasan Lima Ajatappareng untuk mencari kawasan potensial bagi kehidupan anak turunannya dan pengikutnya. Setelah mempersunting We TeppulungE Datu Suppa Pertama serta menetap untuk sementara seraya membina keluarganya, tokoh ini senatiasa melakukan penjelajahan hingga pada suatu ketika, tibalah beliau pada suatu pemukiman yang ramai, maka ia berkata kepada pengikutnya:  “SawEto tauwE rini” (Ramai orang disini).

Kemudian peristiwa tersebut menjadi versi lain dari awal mula penamaan Kerajaan Sawitto. Kronik inilah yang mendasari sehingga oleh beberapa kalangan sejarawan Sulawesi Selatan menyebut  La BungengE’ ManurungngE ri Bacukiki adalah Addatuang Sawitto I, sementara sejarawan lainnya menyebut GeppoE adalah cucu langsung La BangengE’ sebagai Addatuang Sawitto I.

Penobatan La BangengE selaku Addatuang (Raja) Sawitto I adalah dari dynasti Addatuang Sawitto yang didirikan oleh Puang RisompoE ri Rura MarajaE bersaudara pada abad sebelumnya.

Perubahan gelar wangsa Addatuang (Raja/naungan) menjadi Addatuang (pertuanan), adalah bermula sejak pernikahan La BangengE ManurungE ri Bacukiki dengan We TeppulingE’ ManurungE ri Lawaramparang yang berkedudukan di Kerajaan Suppa yang menyebutkan Datu terhadap Rajanya.

Bergabung dalam Wilayah Ajatappareng

Pembentukan kerajaan-kerajaan di wilayah Ajatappareng tidak terlepas dari kehadiran TomanurungE, Dalam lontaraq antara lain disebutkan bahwa pembentukan Sidenreng sebagai salah satu kerajaan utama di wilayah Ajatappareng bermula dari kehadiran Tomanurungdi Bulu Lowa, Tomanurung inilah yang disepakati oleh orang-orang Sidenreng menjadi penguasa mereka untuk menggantikan Addatoang Sidenreng sebelumnya yang bernama We Tappalangi.

Pembentukan Kerajaan Sawitto juga tidak terlepas dari kehadiran Tomanurung, yaitu Tomanurung di Bacukiki yang kemudian kawin dengan Tumanurung ri Akkaajang,  Lawaramparang, Suppa. Kedua Tomanurung inilah yang menjadi cikal bakal raja-raja Sawitto.

Sementara keberadaan Kerajaan Alitta juga tidak terlepas dari kedatangan Tomanurung yang bernama We Bungko-bungko, Ia diketemukan oleh para pemburu dan kemudian diantar ke Arung Alitta yang bernama La Massora.

Rakyat Alitta sangat senang melihat kedatangan We Bungko-bungko yang sangat cantik, sehingga bersepakatlah mereka untuk mengawinkan La Massoro dengan We Bungko-Bungko.

La Massoro merupakan Arung Alitta ketiga, sebab sebelum ia berkuasa di Alitta telah ada dua penguasa di Alitta yaitu We Cella yang kemudian digantikan La Gojeng. Pada masa kekuasaan La Massoro, Kerajaan Gowa menaklukkan Suppa, Sawitto, dan Alitta. Ketika itu La Masoro ditawan di Gowa. Itulah sebabnya yang menggantikan ibundanya (We Cella) menjadi Arung Alitta adalah saudara sepupunya yang bernamaLa Gojeng.

La Gojeng tidak pernah kawin, karena ia meninggal ketika masih muda. Ketika ia wafat, Gowa memperbolehkan La Massoro kembali ke Alitta untuk menjadi penguasa di Kerajaan Alitta

Gambaran singkat tersebut menunjukkan bahwa, asal mula pembentukan kerajaan-kerajaan di wilayah Ajatappareng juga bertolak atau tidak terlepas dari kehdiran Tomanurung, yaitu Tomanurung di Bacukiki, Tomanurung di Lawamparang, Suppa. Dan Tomanurung di Bulu Lowa.

Ketika Tomanurung inilah yang menjadi pangkal atau cikal bakal raja-raja atau para penguasa kerajaan di wilayah Ajatappareng. Perkawinan diantara para Tomanurung (Tomanurung ri Bacukiki dengan Tomanurung ri Lawamparang, Suppa) dan keturunan-keturunan mereka, bukan saja semakin mempererat dan mengokohkan jalinan hubungan persaudaraan antara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya di wilayah itu, tetapi semakin mendekatkan dan memperkuat hubungan kekeluargaan dan kekuasaan di antara mereka.

Oleh karena itu, dapat dipahami jika dalam perkembangannya kelima kerajaan di wilayah Ajatappareng menjalin kerjasama, baik dalam bidang ekonomi (perdagangan) maupun dalam bidang pertahanan dan keamanan yang berlandaskan pada semangat persatuan dan persaudaraan, itulah sebabnya perjanjian kerjasama kelima kerjaaan di wilayah itu yang kemudian dikenal Konfeerasi Ajatappareng di nyatakan sebagai persekutuan Lima Kerajaan bersaudara. (Bersambung)

Referensi :
  1. Gandjeng, Mustaka, Drs. H.L, “Sejarah Kerajaan Suppa”, tidak dipublikasi, Makassar, 18 Februari 2016
  2. La Odang Tosessungriu, “ Suppa Negeri Penguasa Teluk”, Tidak dipublikasi, Pare-Pare, Februari 2018
  3. Rimba Alam Pangerang, “Merajut Sistim Pemerintahan di Sul-Sel”
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Suppa (akses tanggal 28 Februari 2018)
  5. Muhammad Amir; Konfederasi Ajatappareng
  6. A.Jushan Tenri Tappu : Sekilas Hubungan Kerajaan BOnde dan Kerajaan Suppa.
Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *