oleh

Mengenang Sultan Bangsa (2): Ayahnya Ditembak Mati dan Perjuangan Keras Menaklukan Ibukota

Nama aslinya memang Sultan Bangsa, nama pemberian Merah Indo dan Kaidah, orang tuanya.  Dia lahir di Desa Talang Arah, Puteri Hijau, Bengkulu Utara pada 10 November 1952. Sultan Bangsa kecil menyaksikan sendiri, ayahnya Merah Indo, ditembak mati gerombolan bersenjata paska pemberontakan PRRI di Sumatera pada tahun 1960-an. Sultan Bangsa kecil jatuh miskin dan berjuang keras untuk hidup. Usaha mati-matian membuatnya berhasil dan akhirnya dikenal sebagai pengacara sukses dengan mendirikan kantor hukum H Sultan Bangsa, SH, MH di Jakarta Timur.

Mediaraja.com beberapa kali meliput kegiatan budaya Sultan Bangsa pada tahun 2017. Dalam beberapa pertemuan, Sultan Bangsa menceritakan sejarah hidupnya. Ia juga memberikan buku biografinya yang berjudul “The Tailor Man, Sultan Bangsa Lelaki dari Bengkulu”. Tulisan di bawah ini sebagian besar dirangkum dari buku biografi Sultan Bangsa tulisan Riki Dhamparan Putra.

Silakan baca: http://mediaraja.com/mengenang-sultan-bangsa-1-ucapan-belasungkawa-mengalir-dari-para-raja-dan-pengeran/

Situasi keamanan paska pemberontakan PRRI benar-benar tak kondusif, termasuk di Talang Arah Bengkulu, sebuah desa di kaki pegunungan Bukit Barisan. Para pemimpin PRRI memang telah kembali ke pangkuan NKRI, tetapi kekacuan justru menjadi-jadi. Sisa-sisa gerombolan bersenjata masih berkeliaran di Bukit Barisan dan lebih berbahaya karena tak terkendali. Mereka seringkali turun gunung, menjarah makanan dan harta benda penduduk di desa-desa pinggiran pegunungan.

Desa Talang Arah menjadi salah satu korbannya. Saat itu Sultan Bangsa yang masih berumur 7 tahun bermain di sungai dan ayahnya tengah berada di hutan untuk berburu punai. Segerombolan orang bersenjata datang menjarah Desa Talang Arah, penduduk yang sebagian besar petani tak kuasa melawan.

Merah Indo, ayah Sultan Bangsa, yang mendengar kabar tersebut, segera turun dari hutan dan bergegas menemui pimpinan gerombolan bersenjata. Ia tak takut dan mengajukan keberatan. Protes tersebut dijawab gerombolan bersenjata dengan memukuli Merah Indo menggunakan tongkat besi kuning dan menyeretnya ke tengah desa. Di depan keluarga dan penduduk, Merah Indo ditembak mati. Tak hanya itu rumah Merah Indo dijarah dan  dibakar.

Semua kejadian tersebut berlangsung di hadapan mata Sultan Bangsa kecil. Kematian ayah dan kehilangan rumah membuat Sultan Bangsa, dua adik dan ibunya hidup terlunta-lunta.  Dendam pun mengapung dalam dada Sultan Bangsa, dan itu barangkali yang turut membuat karakter Sultan Bangsa cukup keras saat dewasa kelak.

Sultan Bangsa dititipkan di Panti Sosial Bunga Harapan di Kota Bengkulu agar bisa belajar di Sekolah Rakyat Muhammadiyah. Namun kehidupan di Panti Sosial juga tak layak karena sulitnya kehidupan ekonomi pada masa itu. Demi bisa bertahan hidup, sebelum menuju sekolah, Sultan Bangsa menawarkan diri kepada penduduk di sekitar pasar Melintang untuk melakukan apa saja seperti mencuci piring dan menyapu halaman demi mendapat sarapan.

Bergaul dengan penduduk di pasar Melintang, membuat Sultan Bangsa mulai mengenal cara-cara memperoleh nafkah untuk bertahan hidup. Pergaulannya pun makin luas, menginjak kelas 5 Sekolah Rakyat (setingkat SD), dia lebih sering mencuci  lancang di  Pasar Lancang Kota Bengkulu. Di pasar inilah, Sultan Bangsa tak segan berkelahi dengan para pembango yang datang meminta ikan seenaknya. Keberanian membuatnya dipercaya para juragan ikan.

Sultan lalu diangkat anak oleh seorang nelayan bernama  Ajo Labu, yang dikenal memiliki ilmu silat. Ia pun mulai belajar ilmu silat dari orang tua angkatnya. Kehidupan di pasar waktu itu jelas tak aman, ada-ada saja kekacauan, ilmu silat membantunya selamat dari seseorang yang menyerangnya dengan senjata tajam. Sejak saat itu, Sultan Bangsa tumbuh menjadi remaja yang kasar dan suka berkelahi. Beruntung ia kemudian beralih profesi menjadi seorang penjahit.

Kehidupan di Bengkulu tak membuatnya beranjak maju, mendorong Sultan Bangsa merantau ke Jakarta saat berusia 23 tahun. Tak punya tujuan pasti, ia hanya bermodal gunting kecil yang selama ini dipergunakan untuk menjahit baju di Bengkulu dan sebuah tas kumal.

Tiba di terminal Lapangan Banteng, ia kebingungan harus berbuat apa. Saat menjumpai seorang tukang sol sepatu, muncul sebersit idenya untuk bergabung. Pengalamannya sebagai tukang jahit baju di Bengkulu, memudahkannya belajar menjadi tukang sol sepatu.

Tentu saja, menjadi asisten tukang sol sepatu hanya sementara demi menahan desakan perutnya yang kelaparan. Beberapa waktu kemudian, Sultan Bangsa mencari-cari pekerjaan di tukang jahit yang bertebaran di Kramat Raya. Lamaran lisan berkali-kali ditolak, tetapi keinginannya untuk bertahan hidup membuatnya ngotot, ia akhirnya diterima di tukang jahit Bukittinggi Taylor.

Pada suatu ketika, tibalah keinginan untuk membuka usaha jahit sendiri. Meski tak punya modal, ia berhasil meyakinkan seorang penduduk untuk menyediakan garasi dan mesin jahit sebagai modal usaha di Kalibaru, Poncol. Melalui kerjasama usaha jahit baju ini, kehidupan Sultan Bangsa berangsur-angsur membaik.

Namun bekerja di Jakarta kala itu, tak lepas dari premanisme. Sultan Bangsa yang tengah menjahit, berselisih dengan seorang gembong preman bernama Leo yang dikenal punya ilmu kebal hingga terjadi perkelahian. Sultan Bangsa dipukul secara tiba-tiba oleh gembong  preman hingga terhuyung. Tak ingin mati sia-sia, Sultan Bangsa yang melihat sebuah pisau segera menghunjamkan pisau ke tubuh Leo.

Warga yang selama ini ketakutan dengan Leo, mengelu-elukan Sultan Bangsa. Dan untungnya, Leo beberapa hari kemudian meminta maaf. Sejak peristiwa itu, Sultan Bangsa menjadi orang yang disegani di Kalibaru.

Dalam perkembangannya, Sultan Bangsa dan anak buahnya terlibat cekcok dengan kelompok preman Plumpang. Tak bersedia mengalah, Sultan Bangsa memukuli bos preman hingga  pingsan. Apes, bos preman ternyata saudara seorang jenderal di sebuah kesatuan. Sultan Bangsa diciduk dan diangkut ke sebuah mess instansi militer. Tetapi justru nasibnya berubah baik, dipandang memiliki bodi kokoh dengan mental kuat, ia ditawari menjadi penjaga keamanan di Plumpang. Pergaulannya kini meluas di kalangan militer.

Tak ingin selamanya bersinggungan dengan perkara keamanan, Sultan Bangsa lalu mendirikan kantor pengacara H Sultan Bangsa, SH, MH yang berkantor di Rawamangun.  Jadilah Sultan Bangsa lebih dikenal sebagai seorang pengacara sukses.

Kehidupan ekonomi yang membaik, tak membuatnya lupa asal-usul. Sultan Bangsa kemudian aktif dalam kegiatan budaya termasuk bergabung dengan sejumlah ormas keraton. Tujuannya turut membangkitkan budaya Bengkulu dalam percaturan budaya nasional dan global (Mada Mahfud).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *