oleh

Pangeran Harry Gondo: Budaya Adiluhung Terisolir di Keraton

Kenapa negeri seperti Jepang memiliki jati diri yang kuat? Pangeran Harry Gondo memiliki jawaban. Meski tidak memiliki kekuasan politik, Kaisar Jepang ditempatkan pada posisi yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakatnya. Alhasil budaya Jepang menjadi perilaku sehari-hari masyarakat dan menjadi modal penting kemajuan bangsanya. Sementara di Indonesia, budaya adiluhung terisolir di keraton. Rasa hormat dan budaya malu di Indonesia, sudah banyak terkikis.

Jepang sudah lama dikagumi bangsa-bangsa lain di dunia. Modernisasi dengan mengadopsi teknologi barat membawa mereka sebagai salah satu negara termaju di dunia. Hebatnya, modernisasi tak mengikis budaya Jepang dalam kehidupan sehari-hari.

Dr Haji Adji Pangeran Harry Gondo Prawiro, MM atau Pangeran Harry termasuk yang mengagumi cara Jepang memajukan negara tanpa menanggalkan budayanya. Pada 4-9 April 2018, Pangeran Harry bersama keluarga berlibur ke negeri matahari terbit untuk melihat dari dekat praktik kehidupan masyarakat Jepang.

Pangeran Harry Gondo bersama keluarga, mengunjungi pusat-pusat budaya Jepang.

Di negeri samurai, ia sering menaiki kursi roda mengingat lututnya tak kuat untuk menyusuri satu tempat ke tempat lain. “Masyarakat Jepang memiliki tingkat sopan santun dan rasa hormat yang tinggi, pengguna kursi roda seperti saya sangat diperhatikan dan didulukan terutama saat di kereta,” kata pria kelahiran Tenggarong, Kalimantan Timur dalam perbincangan dengan Mediaraja.com.

Masyarakat Jepang juga memiliki rasa hormat terhadap orang yang lebih tua dan orang asing. Sikap hormat ditunjukkan dengan membungkukan badan saat memulai percakapan atau sebagai ucapan terima kasih.

“Membungkuknya benar-benar membungkuk dengan wajah ke bawah. Ini sangat mengagumkan kalau melihat Jepang sudah sedemikian modern tetapi budayanya tetap melekat,” ujarnya.

Bahkan saat seorang Jepang merasa bersalah, ia tak segan membungkukkan badannya dalam-dalam, bahkan hingga berlutut. Pangeran Harry mengaku benar-benar kagum dengan adat budaya yang masih tetap lestari, turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pangeran Harry Gondo, dengan kursi rodanya, melihat dari dekat praktik kehidupan warga Jepang. Di sana, pengguna kursi roda betul-betul diutamakan dan didahulukan termasuk saat menggunakan transportasi umum.

Melekatnya budaya yang penuh rasa hormat dan memiliki rasa malu yang tinggi, membuat Jepang mampu memajukan negaranya. “Jadi kemajuan sebuah negara seperti Jepang itu tak lepas dari budayanya yang melekat, rasa hormat terhadap orang lain dan rasa malu berbuat kesalahan,”  tutur pria yang memiliki hobi nyanyi,  single terbarunya “Jangan Lupakan Aku”  bisa dinikmati lewat saluran Youtube dengan subyek Jangan Lupakan Aku-Harry Kutai.

Silakan klik: https://www.youtube.com/watch?v=WB0ZSbIy4d8

Menurun Pangeran Harry, jika masyarakat Jepang lepas dari budayanya, ia yakin Jepang tak akan maju seperti sekarang ini. Budaya adalah modal sebuah bangsa agar bisa maju. “Kita lihat, pejabat Jepang yang diduga korupsi, dia akan buru-buru mengundurkan diri, tak perlu pengadilan yang berlarut-larut. Angka korupsi rendah sehingga pembangunan bisa dipacu,” jelasnya.

Pangeran Harry yang kini sudah pensiun, dulunya berkarir sebagai birokrat di Kabupaten Kutai Kartanegara dengan puncak jabatan sebagai Sekretaris Daerah. Kutai Kartanegara dulu dikenal sebagai kabupaten terkaya dan termakmur di Indonesia.

Pangeran Harry yang semasa kecil banyak menghabiskan waktu di Keraton Kutai dengan adat istiadat yang kental, menilai Indonesia sebenarnya memiliki basis budaya yang sama dengan Jepang. Rasa hormat dengan sesama dan rasa malu adalah budaya yang dikembangkan para raja di keraton.

“Coba sekarang, secara umum generasi muda jika bertemu dengan generasi tua seperti biasa-biasa saja, kurang ada rasa hormat. Ini bukan kita minta dihormati, tetapi ini menunjukkan masyarakat semakin jauh dari budaya lokal yang adiluhung. Budaya malu juga terkikis, maka korupsi merajalela,” tambahnya.

Pangeran Harry menilai situasi tersebut ada hubungannya dengan perlakukan terhadap keraton. Di Indonesia, keraton tak lagi diperhitungkan, dan lebih dipandang sebagai masa lalu. “Padahal budaya adalah modal bagi pembangunan. Kalau tak ada rasa hormat dan rasa malu, pembangunan tak akan berjalan, habis dikorupsi,” terangnya.

Menurutnya, Indonesia bisa meraih jati dirinya kembali dengan bersandar pada budaya adiluhung yang masih hidup di keraton-keraton. “Budaya adiluhung itu masih hidup di keraton, hanya terisolir saja,” cetusnya.

Untuk itu Pangeran Harry berharap semua pihak termasuk pemerintah memandang keraton sebagai aset budaya guna mewarnai kembali perilaku masyarakat dan bangsa dengan perilaku yang adiluhung. (Mada Mahfud)

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *