oleh

Perang Kolosal Dayak Ramaikan Hari Jadi Tanjung Selor

TANJUNG SELOR, MEDIARAJA.com: Tari kolosal perang dayak di tampilkan pada acara memperingati hari jadi Kota Tanjung Selor dan Hari Jadi Kabupaten Bulungan yang dikemas dengan acara adat Birau Kesultanan Bulungan.

Event tersebut diinformasikan pemilik akun Andi Tamsil dalam grup facebook FSKN. Postingan mendapat respon dari akun Datu Sri Mujeebudeen. “ Dayak Serawak dan Dayak Bulungan itu satu bangsa, satu rumpun. Ketua FSKN Sultan Sepuh PRA Arief Natadiningrat juga memberikan komentar. “Luar biasa budaya Bangsa Indonesia,” tulis Sultan Sepuh.

Mengutip Wikipedia, Tanjung selor dibangun berseberangan di Tanjung Palas. Tanjung selor menjadi pusat perdagangan yang ramai, ini disebabkan wilayah Kesultanan Bulungan terletak pada jalur perdagangan internasional pantai timur kalimantan. Pada masa itu aktivitas perdagangan ramai terjadi disekitar pantai timur di mana para pedagang dari Singapura, Bwansa (Sulu), Magindanou, Bulungan dan Berau singgah kebandar Samarinda merupakan bandar Resmi kerajaan Kutai yang juga menghubungkan Makasar otomatis Bulungan masuk dalam jalur pelayaran internasional pada masa itu. Bandar-Bandar ini menjadi wilayah berkumpulnya pusat perdagangan setelah jatuhnya Malaka ketangan Portugis, Sehingga jual beli hasil bumi yang dikumpulkan diwilayah hulu sungai seperti sarang burung, lilin, rotan dan lain sebagainya juga diperdagangkan di bandar dagang milik kesultanan bulungan ini.

Menurut laporan yang dibuat oleh J. Zweger sekitar tahun 1853 misalnya, mencatat aktivitas dagang yang berkembang pesat saat itu. Munculnya Tanjung Selor, berhadapan dengan Tanjung Palas, ibukota Kesultanan Bulungan, memicu lahirnya kedatangan para pendatang yang juga berprofesi sebagai pedagang dari luar Bulungan. Terbentuklah perkampungan baru diseberang Tanjung Palas yaitu di Tanjung Selor.

Wilayah itu tidak hanya dihuni para pendatang berkebangsaan keturunan arab yang kemudian membuat pemukiman yang bernama kampung Arab, namun juga di ikuti tumbuhnya kantong-kantong pemukiman lain yang menyebar di sekitar tepi sungai di Tanjung Selor.

Selain orang-orang keturunan Arab, Tanjung Selor juga dihuni suku bangsa lain seperti orang-orang Tidung, Bugis, Jawa, Melayu (Sumatra), Banjar, dan orang Cina. Tumbuhnya kantong-kantong pemukiman ditanjung selor ini bukannya disebabkan adanya kegiatan usaha dagang saja, namun juga karena adanya migrasi dalam skala yang cukup besar dari tanah asal mereka. Sebagian besar dari mereka masuk dalam kelompok Orang-orang Melayu sehingga mudah melakukan pembauran dalam masyarakat. Pembauran juga mempercepat penyebaran Agama Islam pada masa itu. Selain Kampung Arab, Kampung Dagang dan Tanah Seribu, dikenal juga Kampung Pasar yang kebanyakan di huni oleh orang-orang Banjar. (MM)

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *