oleh

Pewaris Kesultanan Aceh Tutup Usia, Jenazah Almarhumah Diterbangkan dari Mataram ke Aceh

JAKARTA, MEDIARAJA.com-Pewaris Kesultanan Aceh yang selama ini tinggal di Mataram, NTB, Sultanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam tutup usia. Jenazah cucu Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah-sultan terakhir Kerajaan Aceh ini kemudian diterbangkan ke tanah leluhurnya untuk dikebumikan di kompleks pemakaman raja-raja Aceh, Baperis, Banda Aceh.

Mediaraja.com mendapat informasi wafatnya Sultanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam dari Keluarga Besar Kedaton Pejanggi Lombok.  Maspanji Satia Wangsa yang tinggal di Mataram Lombok NTB mengabarkan berita duka cita melalui status yang dikirimkan ke facebook Mediaraja.com,

“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Keluarga Besar Kedaton Pejanggi Lombok beserta segenap Masyarakat Lombok berdukacita yang dalam atas mangkatnya Sultanah Atjeh Yang Mulia Sulthanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Cahya Nur Alam binti Tuanku Raja Ibrahim. Semoga arwah almarhumah mendapat tempat yangg layak disisiNya.Amin,” tulis Maspanji Satira Wangsa.

Teungku Putroe yang selama ini tinggal bersama putri bungsunya di Mataram, meninggal pada 21 Ramadhan 1439 Hijriyah yang bertepatan pada 6 Juni 2018. Cucu Sultan Aceh terakhir yang berperang melawan Belanda ini, menghembuskan nafas terakhir pada pukul 06.45 Wita di RS Kota Mataram NTB. Jenazah kemudian disemayamkan di rumah duka Jl Kesra Raya No 124 Tanjung Karang, Mataram, NTB.

Selanjutnya, sore harinya, jenazah diterbangkan ke Aceh melalui Jakarta. Almarhumah kemudian dimakamkan di tanah leluhurnya  di kompleks pemakaman raja-raja Aceh, Baperis, Banda Aceh. Ucapan dukacita dan doa mengalir dari para raja sultan, dan pangeran. Mereka mendoakan semoga arwah Teungku Putroe diterima Allah SWT.

Silakan baca juga:http://mediaraja.com/mengenang-sultan-bangsa-1-ucapan-belasungkawa-mengalir-dari-raja-dan-pengeran/

“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Subhanallah, alamarhumah wafat pada 21 Ramadhan, semoga amal ibadah almarhumah diterima Allah SWT,” tulis Niasari Roedyat Martadiradja, tokoh Sunda Bandung.

“Innalillahi wa Innailaihi Rojiun semoga almarhumah ditempatkan di tempat yg mulia di sisi Allah SWT….Aamiin ya Robb,” tulis tokoh Kerajaan Cantung Kalimantan, Andika Rachmad.

Sultanah Putrue Safiatuddin Cahya Nur selama ini menetap di Mataram, NTB bersama putri bungsunya. Nama Sultanah Putrue kembali terangkat ke permukaan pada 9 November 2017, saat mendapat undangan Presiden Joko Widodo ke Istana Negara di Jakarta untuk menerima plakat dan piagam gelar Pahlawan Nasional atas nama almarhumah Laksamana Keumalahayati. (Mada Mahfud)

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *