oleh

Raja Gowa dari Masa ke Masa dan Peran Vital Tradisi Lontrak

JAKARTA, MEDIARAJA.com-Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan termasuk Kerajaan Gowa adalah kerajaan tua di Nusantara.  Hebatnya, urutan nama raja dari masa ke masa tercatat dengan rapi hingga sekarang. Kuncinya tradisi lontrak yang kuat, sang pencatat sejarah memiliki independensi yang dihormati semua pihak. Dengan tradisi lontrak yang kuat ini, kerajaan di Sulawesi Selatan termasuk Kerajaan Gowa tak akan kesulitan melakukan regenerasi raja di masa mendatang.

Mediaraja.com beberapa kali meliput kegiatan para raja atau datu di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Dan dalam membahas sejarah masa lalu, rujukan semua pihak adalah sama, lontrak. Saat sebuah lontrak dibuka dan dibaca, cerita perjalanan sejarah akan kembali lurus. Meski tetap ada dinamika di setiap masa, catatan silsilah dari masa ke masa menjadi hal terpenting dalam sejarah Sulawesi Selatan. Bisa disebut, lontrak menjadi sarana penyelamat masa lalu, masa kini dan masa depan karena menjadi acuan semua pihak.

Raja Gowa XXXVII (ke-37), I Maddusila Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II mangkat pada hari Minggu, 10 Juni 2018 yang bertepatan dengan tanggal 25 Ramadhan 1439 Hijriyah. Ia dinobatkan menjadi Raja Gowa XXXVII pada tahun 2015.

Silakan baca juga: http://mediaraja.com/raja-gowa-xxxvii-mangkat-raja-dan-sultan-nusantara-berduka/

Silakan baca juga: http://mediaraja.com/raja-gowa-mangkat-raja-dan-ormas-adat-kirimi-karangan-bunga/

Tentu Raja Gowa XXXVII di era Negara Kesatuan Republik Indonesia, berbeda dengan raja-raja Gowa sebelumnya. Di era NKRI sekarang ini, seorang raja adalah pelestari adat budaya. Permendagri No 39 Tahun 2007 memang tidak secara tegas menyebut definisi seorang raja. Namun dalam Permendagri No 39 ini didefinisikan arti keraton yang tercantum pada Bab 1 Pasal 1.

Silakan download: http://mediaraja.com/download/permendagri-no-39-tahun-2007/

Keraton adalah organisasi kekerabatan yang dipimpin oleh Raja/Sultan/Panembahan atau sebutan lain yang menjalankan fungsi sebagai pusat pelestarian dan pengembangan adat budaya dan nilai-nilai sosial budaya yang terkandung di dalamnya, serta mengayomi lembaga dan anggota masyarakat.

Dengan adanya Permendagri tersebut, jelaslah keraton dan raja diakui di era NKRI sekarang ini. Hal itu tak lepas dari kenyataan bahwa keraton atau sebutan lain di berbagai daerah adalah pembentuk adat dan budaya di negeri ini sejak berabad-abad lampau. Menghilangkan peran keraton sama saja mencabut akar budaya yang tentu membahayakan jatidiri bangsa.

Berlandasan Permendagri, tak heran muncul penobatan raja-raja di berbagai daerah, sebagaimana Raja Gowa XXXVII yang dinobatkan pada 2015. Tujuannya hanya melestarikan dan mengembangkan adat budaya sehingga bangsa ini tak lepas dari sejarah masa lalu. Indonesia begitu dikagumi dunia antara lain karena kakayaan budaya yang akan menjadi aset bangsa di masa kini dan masa depan.

Dan mengacu pada itu semua,  Kerajaan Gowa sepertinya tak akan kesulitan dalam regenerasi raja-rajanya di masa mendatang. Tradisi lontrak yang kental, membuktikan hal itu. Terkait hal tersebut, Mediaraja.com menghimpun informasi mengenai Raja Gowa dari masa ke masa. Berikut daftarnya:

No Nama Raja Gowa Periode
1 Tumanurung Baine Abad 13
2 Tumasalangga Baraya
3 Puang Loe Lembang
4 I Tuniatbatanri
5 Karampang ri Gowa
6 Tunatangka Lopi Abad 14
7 Batara Gowa Tumenanga ri Paralakkenna
8 Pakere Tau Tunijallo ri Passukki
9 Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna Abad 16
10 I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipallangga Ulaweng 1546-1565
11 I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte
12 I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo 1590
13 I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu 1593
14 I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna 1593 – 15 Juni 1639
15 I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna 1639-1653
16 I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla’pangkana 1653-1669
17 I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah Tuminanga ri Allu’. 1669-1674
18 Sultan Mohammad Ali (Karaeng Bisei) Tumenanga ri Jakattara 1674-1677
19 I Mappadulu Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tuminanga ri Lakiyung 1677-1709
20 La Pareppa Tosappe Wali Sultan Ismail Tuminanga ri Somba Opu 1709-1711
21 I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi
22 I Manrabbia Sultan Najamuddin
23 I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi (Menjabat kedua kali) 1735
24 I Mallawagau Sultan Abdul Chair 1735-1742
25 I Mappibabasa Sultan Abdul Kudus 1742-1753
26 Amas Madina Batara 1747-1795
27 I Mallisujawa Daeng Riboko Arungmampu Tuminanga ri Tompobalang 1767-1769
28 I Temmassongeng Karaeng Katanka Sultan Zainuddin Tuminanga ri Mattanging 1770-1778
29 I Manawari Karaeng Bontolangkasa 1778-1810
30 I Mappatunru / I Mangijarang Karaeng Lembang Parang Tuminang ri 1816-1825
31 La Oddanriu Karaeng Katangka Tuminanga ri 1825-1826
32 I Kumala Karaeng Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Moh Aidid Tuminanga ri Kakuasanna 1826-1893
33 I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Idris Tuminanga ri Kalabbiranna 1893-1895
34 I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Husain Tuminang ri Bundu’na 1895-1906
35 I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur Muhibuddin Tuminanga ri Sungguminasa 1936-1946
36 Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin 1956-1960
37 I Maddusila Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II 2015-2018

 

 

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *