oleh

Resensi Buku: Andi Djemma-Datu Luwu, Tahta Bagi Republik

Raja dan Sultan dalam sejarah Nusantara adalah pejuang bangsa, tak terkecuali pula di era kemerdekaan. Buku berjudul “Andi Djemma-Datu Luwu, Tahta Bagi Republik” menjadi sebuah catatan kecintaan seorang raja pada tanah air. Buku ini mengisahkan Andi Djemma, Datu Luwu ke XXXIV dan XXXVI yang memilih meninggalkan tahta dan harta guna melancarkan perang gerilya mempertahankan kemerdekaan RI.

Buku setebal 226 halaman ini sebenarnya kumpulan tulisan 13 tokoh Sulawesi Selatan. Sebagian diperoleh dari makalah Seminar Nasional Kepahlawanan Andi Djemma di Palopo. Kesaksian dan pemikiran dari 13 tokoh kemudian di sunting oleh Baharman Supri dan Badaruddin Andi Picunang.

Hadirnya pemikiran dari 13 tokoh membuat buku ini memiliki kekayaan kesaksian dan pemikiran, meski di sisi lain menyulitkan penyuntingan guna menghindari berulangnya penulisan yang sama. Buku ini sangat layak untuk dibaca dan menjadi bahan referensi ditengah sedikitnya penulis-penulis buku sejarah.

Membaca buku ini, kita akan segera terkesan dengan dengan keteladanan yang nyata. Seorang raja yang lebih peduli kehidupan rakyatnya, daripada kehidupannya sendiri. Ia rela melepaskan tahta dan jabatan demi kehidupan rakyatnya pada masa itu dan masa depan. Ia tak sudi, rakyatnya kembali dijajah Belanda.

Andi Djemma lahir 15 Januari 1901 di Palopo dan wafat 23 Februari 1965. Melihat perjalanan Andi Djemma, ia memang sosok raja yang dikehendaki rakyatnya. Jika bukan karena desakan rakyat, bisa jadi Luwu pada tahun 1935 tak dipimpin Andi Djemma, maklum Belanda yang saat itu menguasai Nusantara tidak suka dengannya. Belanda sudah lama mencurigai sosoknya yang lebih memilih dekat rakyat daripada dengan penguasa (hal 17-27).

Pada masa kepemimpinnya, Andi Djemma getol membangun kesadaran politik warganya melalui berbagai organisasi kebangsaan dan keagamaan. Langkahnya ini kelak amat berguna yang membuat Luwu secara serempak segera mengakui proklamasi Kemerdekaan RI dan mati-matian mempertahankan kemerdekaan.

Tak hanya itu, Andi Djemma mengambil inisiatif melangsungkan konferensi raja-raja Sulawesi Selatan di Watampone. Hasilnya para raja menegaskan berdiri di belakang Republik Indonesia. Bendera merah putih juga dikibarkan di Luwu.

Andi Djemma lalu mengumpulkan pemuda-pemuda Luwu di sebuah lapangan (halaman 30). Dia kemudian berpidato untuk menegaskan pendiriannya: “Daerah Luwu adalah daerah yang tidak terpisah dari Republik Indonesia, bahwa pegawai-pegawai pemerintah di Luwu adalah pegawai-pegawai Republik Indonesia, dan bahwa pemerintah Luwu menolak kerjasama dengan NICA”.

NICA adalah Nederlandsch Indie Civil Administratie alias Pemerintahan Sipil Hindia Belanda. Hadirnya tentara sekutu pro NICA paska kemerdekaan RI, ditentang rakyat Luwu. Pecahlah perang pada 23 Januari 1946. Meski ada pilihan untuk melarikan diri ke Ibukota RI di Pulau Jawa, Andi Djemma lebih memilih dekat rakyatnya, memimpin perang gerilya dengan keluar masuk hutan.

Gigihnya perjuangan rakyat Luwu, membuat NICA dengan tentara KNIL kesulitan di Medan laga. Belanda dengan KNIL-nya baru bisa menangkap Andi Djemma di Benteng Batuputih pada Juni 1946. Pengobar perjuangan rakyat Luwu ini kemudian diasingkan ke Selayar dan Ternate.

Paska pengakuan kemerdekaan oleh Belanda,  Andi Djemma dikembalikan dari pengasingan pada 1 April 1950. Kembalinya Andi Djemma di sambut begitu meriah rakyatnya. Sempat diselingi seorang Datu lainnya, ia kembali menjadi Datu Luwu untuk kedua kalinya alias Datu Luwu ke XXXVI. Sebelumnya ia menjadi Datu Luwu ke XXXIV.

Meski cerita kepahlawannya tak dipublikasikan seramai perjuangan kemerdekaan di Jawa, pada akhirnya pemerintah RI memberikan pengakuan. Andi Djemma dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 8 November 2002. (Mada Mahfud)

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *