oleh

Resensi Buku: H Sultan Bangsa, Ketua Kaum Agung Pekal dan Sultan Mahkota Mukomuko

H Sultan Bangsa dikukuhkan menjadi Ketua Kaum Agung Pekal oleh Lembaga Adat Pekal pada 29 Juli 2017. Pada saat yang sama Ninik Mamak Keturunan Sultan Mukomumo dan Badan Musyarawah Adat Kabupaten Mukomuko juga memberi gelar adat Sultan Mahkota Kesultanan Mukomuko kepada Sultan Bangsa.

Buku berjudul “H Sultan Bangsa, Pengukuhan Ketua Kaum Agung Pekal dan Sultan Mahkota Kesultanan Mukomuko” setebal 139 halaman ini dicetak pada Oktober 2017, merupakan sebuah laporan jurnalistik Mada Mahfud yang diterbitkan Pusat Data Kerajaan dan Kesultanan Nusantara (Pudaksutra). Buku yang dicetak secara ekslusif menggunakan kertas art paper dan foto-foto berwarna ini merupakan laporan jurnalistik penobatan Sultan Bangsa pada 29 Juli 2017 di Desa Seblat, Puteri Hijau, Bengkulu Utara.

Silakan baca: http://mediaraja.com/sultan-bangsa-resmi-jadi-ketua-kaum-agung-pekal-bergelar-maha-raja-sakti/

Dalam buku yang dicetak ukuran B5 ini diceritakan prosesi adat dimulai dengan Sidang Agung Ketua Kaum Adat Pekal. Lima orang pimpinan adat duduk melingkar untuk menegaskan kesepakatan mereka  memilih Ketua Kaum Agung. Kelimanya adalah M Sabii  (Ketua Kaum Pekal Kabupaten Bengkulu Utara), Haidir (Ketua Kaum Pekal Kabupaten Mukomuko),  Zamhari As Jamal (Ketua Kaum Pekal Marga Ketahun), Halidi (Ketua Kaum Pekal Marga Seblat), dan Badrun Hasani (Ketua Kaum Pekal Marga Ipuh).

Silakan baca: http://mediaraja.com/mengenang-sultan-bangsa-1-ucapan-belasungkawa-mengalir-dari-para-raja-dan-pengeran/

Sidang dihadiri tokoh adat setempat lainnya seperti H Amandeka Amir, SSos (orang tua masyarakat Pekal),  HM Tauhid, SE (orang tua Masyarakat Pekal), DR H Halilul Khairi (cendikiawan masyarakat Pekal), H Ikhwan Halidi, SH, SSos, MM (Ketua Ikatan Keluarga Masyarakat Pekal-IKMP), dan Ibnu Majah (Sekretaris Ikatan Keluarga Masyarakat Pekal-IKMP). Sementara dari tingkat yang lebih tinggi,  hadir Badan Musyawarah Adat (BMA) Provinsi Bengkulu yang diwakili Sekretaris Umum Datu Setia Amanah Tantawi Jauhari, SE.

Silakan baca: http://mediaraja.com/mengenang-sultan-bangsa-2-ayahnya-ditembak-mati-dan-perjuangan-keras-menaklukan-ibukota/

Pejabat Pemerintah Pusat diwakili Ibu Dra Elly Yuniarti, MM (Kepala Sub Direktorat Ketahanan Seni dan Budaya Kementerian Dalam Negeri).  Sedangkan Gubernur Bengkulu mengutus Drs Rusdi Bakar, M.Pd (Staf Ahli Gubernur Bengkulu Bidang Kemasyarakatan). Sementara Kabupaten Bengkulu Utara, datang langsung sang Bupati Ir Mian dan Ketua DPRD Aliator Harahap, SE. Demikian juga Kabupaten Mukomuko dihadiri langsung Bupati Chairul Huda, SH dan Ketua DPRD Armansyah, ST.

Rapat Agung dimulai dengan pemberian cerano (tempat sirih) oleh Zamhari As Jamal kepada Orang Tua Kaum Masyarakat Pekal  Amandeka Amir. Terjadilah dialog singkat yang intinya meminta ijin menggelar rapat. Tujuannya mengangkat pemimpin kaum tertinggi yang akan mempersatukan orang Pekal terutama dalam melestarikan adat budaya yang telah hampir punah.

Setelah menggelar rapat, perwakilan masyarakat adat Pekal, Zamhari As Jamal menyatakan rapat adat memutuskan mengangkat H. Sultan Bangsa, SH, MH sebagai Ketua Kaum Agung Masyarakat Pekal dengan gelar Maha  Raja Sakti  (Ketua Kaum Agung Masyarakat Pekal H. Sultan Bangsa Maha Raja Sakti).

Keputusan Rapat Agung Masyarakat Pekal tersebut kemudian diserahkan kepada Badan Musyawarah Adat (BMA) Provinsi Bengkulu yang diwakili Sekretaris Umum Datu Setia Amanah Tantawi Jauhari, SE.Dengan lembaran-lembaran naskah keputusan Badan Musyawarah Adat (BMA) di tangan, keputusan Rapat Agung Masyarakat Pekal dibacakan Datu Setia Amanah. Usai pidato pengukuhan, Datu Setia Amanah     Tantawi Jauhari, SE menyematkan pin dan lencana adat, resmilah Pengukuhan H Sultan Bangsa, SH, MH sebagai Ketua Kaum Agung Pekal.

Sultan Mahkota Kesultanan Mukomuko

Pada hari yang sama, buku “H Sultan Bangsa, Ketua Kaum Agung Pekal dan Sultan Mahkota Kesultanan Mukomuko” juga menulis anugerah gelar Sultan Mahkota Kesultanan Mukomuko pada Sultan Bangsa. Gelar tersebut tercantum dalam piagam yang ditandatangani Ninik Mamak Keturunan Kesultanan Mukomuko Sultan Bakarudin dan Ketua Badan Musyawarah Adat Mukumuko H Ali Kasan. Piagam tersebut kemudian dibacakan perwakilan Keturunan Kesultanan Mukomuko Drs Syafei HK dan Edi Yanto, SE, MSi.

Dalam piagam tersebut disampaikan Sultan Bangsa berdasarkan silsilah adalah sah Keturunan Sultan Mukomuko, dan pengangkatan Sultan Mahkota untuk mengisi kekokosongan tokoh yang mampu memajukan adat budaya di Kesultanan Mukomuko.

Kegiatan penobatan Sultan Bangsa diawali pesta rakyat pada Jumat, 28 Juli. Berbagai kesenian kuno khas Bengkulu dimainkan antara lain tari Gandai, Tari Randai, Pencak Silat, Saraval Enam, dan Musik Doll.

Masyarakat juga dijamu dengan aneka kuliner hasil pemotongan satu ekor kerbau, dua ekor sapi, dan lima ekor kambing. Tidak sembarang angka, satu ekor kerbau melambangkan rasa syukur pada Tuhan. Sedangkan dua ekor sapi bermakna masyarakat Pekal dan Pemerintah sepakat bahwa NKRI adalah harga mati. Sementara lima ekor kambing adalah tekad mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. (Mada Mahfud)

 

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *