oleh

Sejarawan Sumsel, Ahmad Bastari Suan, Telah Tiada

Innalillahi wa innailaihi roji’un. Duka mendalam, Sumatera Selatan kehilangan salah seorang putra terbaiknya, Ahmad Bastari Suan, penulis sejarah dan budaya Sumatera Selatan. Ahmad Bastari Suan (73 tahun) wafat pada Sabtu, 26 Oktober 2019.

Salah satu penuturannya menjadi rujukan satu bab dalam buku ‘Kerajaan Suku Lime, Dari Raden Fatah hingga Prabu Bur Maras’. Almarhum mengisahkan perang di Kute Jati yang berlangsung pada tahun 1854-1866.

Jati dulunya adalah ibukota Kerajaan Suku Lime, didirikan Raden Fatah yang juga Raja Demak pada tahun 1500. Paska Kesultanan Palembang takluk, rakyat Sumatera Selatan berhimpun di Jati-Lahat untuk melawan Belanda. Peperangan berlangsung selama 12 tahun dari 1854-1866. Sayangnya kisah heroik ini tak tertulis dalam buku-buku sejarah di tingkat nasional.

Seperti dikutip dari beritapagi.co.id, Ahmad Bastari Suan wafat di RSI Siti Khadijah pada Sabtu dini hari, 23 Oktober 2019 pukul 02.30 WIB. Beliau memiliki riwayat penyakit stroke dan asma.

Beliau lahir pada 27 Agustus 1946 di Dusun Pelajaran, Kecamatan Jarai, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Ia menempuh studi di Universitas Sriwijaya. Karir pekerjaannya antara lain sebagai wartawan surat Kabar Gema Pancasila, Guru Sejarah di SMP Srijayanegara Palembang, dan PNS Pemkot Palembang.

Sejumlah buku karyanya menjadi bukti keberadaan Ahmad Bastari Suan sebagai sejarawan dan budayawan Sumsel. Seperti penuturan Vebri Al Lintani yang juga pegiat budaya Sumatera Selatan dalam portal beritapagi.co.id, buku karya Ahmad Bastari Suan antara lain: Sistem Morfologi Verba Bahasa Besemah (1985 bersama Zainul Arifin Aliana dkk), Unsur Kekerabatan dalam Tutur Sastra Nusantara di Sumatera Selatan (1996 bersama-sama Zainul Arifin Aliana dkk), Struktur Sastra  Lisan Semende (2000 bersama Zainul Arifin Aliana dkk), Struktur Sastra Lisan Aji (2002 bersama Latifah Ratnawaty dkk), Sejarah Besemah (2005 bersama Marzuki Bedur dan Eka Pascal), Atung Bungsu (2007 bersama-sama Eka Pascal dan Yudi Herpansi), Besemah: Lampik Mpat Mardike Duwe (2008 bersama Yudi Herpansi dan Eka Pascal), Sastra Tutur Sumatera Selatan (2007 bersama Vebri Alintani dkk), Tata Cara Adat Perkawinan Sukubangsa Besemah di Sumatera Selatan (2007 bersama-sama EK Pascal dan Vebri Al-Lintani), Sastra Tutur Sumatera Selatan; Sastra Tutur Besemah (2014, bersama-sama Vebri Al Lintani dan Yudi Herpansi).

“Pada saat ini Pak Bastari sedang menyiapkan buku ‘Aturan Betutugh Base Besemah’, ‘Cerita Rakyat Besemah’,  dan lain-lain,” kata Vebri yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Palembang seperti dikutip dari beritapagi.co.id.

Selamat jalan Pak Ahmad Bastari Suan, semoga Allah SWT menerima segala kebaikan Bapak. Aamiin. (Mada Mahfud)

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *