19 Desember 2017

Sultan Bangsa Resmi Jadi Ketua Kaum Agung Pekal Bergelar Maha Raja Sakti

H Sultan Bangsa SH MH tengah mendapat pengalungan medali dari Raja Palembang. Sesaat sebelumnya H Sultan Bangsa SH MH dikukuhkan menjadi Ketua Kaum Agung Pekal oleh Masyarakat Pekal

PUTRI HIJAU-MEDIA RAJA: Sultan Bangsa resmi menjadi Ketua Kaum Agung Pekal setelah menjalani prosesi adat. Pewaris Kesultanan Mukomuko, Bengkulu, kini bergelar Maha Raja Sakti.

Prosesi penganugerahan Ketua Kaum Agung Pekal berlangsung di Singgasana Pekal, Putri Hijau, Bengkulu Utara, Sabtu, 29 Juli 2017.

Sekitar seribu undangan menyesaki Singgasana Pekal. Hadir kalangan Raja Sultan dan Pemimpin Adat dari berbagai daerah di Indonesia, utusan pemerintah pusat, dan pemerintah daerah. Masyarakat juga berbondong-bondong tak ingin ketinggalan menyaksikan peristiwa akbar dalam sejarah adat budaya Bengkulu.

Prosesi adat dimulai dengan Sidang Agung Ketua Kaum Adat Pekal. Lima orang pimpinan adat duduk melingkar untuk menegaskan kesepakatan mereka untuk memilih Ketua Kaum Agung. Kelimanya adalah M Sabii  (Ketua Kaum Pekal Kabupaten Bengkulu Utara), Haidir (Ketua Kaum Pekal Kabupaten Mukomuko),  Zamhari As Jamal (Ketua Kaum Pekal Marga Ketahun), Halidi (Ketua Kaum Pekal Marga Seblat), dan Badrun Hasani (Ketua Kaum Pekal Marga Ipuh).

Setelah itu, Masyarakat Adat Pekal menyerahkan hasil keputusan mereka mengangkat Sultan Bangsa sebagai Ketua Kaum Agung Pekal untuk dibacakan Raja Kesultanan Pelembang Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin. Dengan busana kebesaran Raja Palembang yang didominasi warna kuning, raja yang dikenal dengan penampilan flamboyan ini dengan khidmat membacakan watikah penobatan Sultan Bangsa sebagai Kaum Agung Pekal.

Dalam watikah-nya, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin menegaskan penobatan Sultan Bangsa sekaligus pengumuman kepada segenap kaum Pekal di Bengkulu maupun luar daerah, kepada Raja, Sultan, Datu, Peglingsir, dan pemangku adat di seluruh nusantara untuk dapat menyambung tali silaturahim dalam memajukan adat, adab, dan budaya dalam persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Upacara penobatan Sultan Bangsa berlangsung sangat khidmat dan meriah. Dari kalangan Raja Sultan Nusantara, hadir Sri Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin. Raja senior yang flamboyan ini adalah Dewan Agung Majelis Agung Raja Sultan Indonesia (Mars Indonesia). Sebelumnya, Sultan Iskandar adalah Ketua Umum Yayasan Raja Sultan Nusantara.

Dengan kiprahnya mengembalikan marwah Raja Sultan Nusantara, tak heran, Sri Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin didaulat membacakan watikah penobatan Sultan Bangsa.

Raja lainnya yang hadir Daulat Yang Di Pertuan Raja Alam Minangkabau Sultan Taufik Thaib yang membawa 50 delegasi, dan Raja Inderagiri Sultan Indra Azhir Osman yang juga membawa 50 anggota Keluarga Besar Kesultanan Inderagiri, Tuanku Bosa XIV dari Kerajaan Bosa Talu Sumatra Barat, Sekertaris MARS Indonesia Pangeran Nataadiguna Jayakarta Mas’ud Thoyib Adiningrat, Kanjeng Pangeran Norman Hadinegoro, dan Pangeran Nato Dirajo Arfah Benny Tjekyan.

Dari Sulawesi hadir Raja Bontoa Maros Sulawesi Prof Dr M Asdar yang juga Ketua Presidium Majelis Cendikiawaan Keraton Nusantara, dan Dr Yosan dari Kerajaan Bone.

Dari pemerintah, hadir utusan Kementrian Dalam Negeri Ibu Elly Yuniarti. Sementara pejabat daerah, hadir Bupati Bengkulu Utara Ir Mian, Bupati Mukomuko Chairul Huda, Ketua DPRD Kabupaten Mukomuko Armansyah ST, dan Staf Ahli Gubernur Bengkulu Rusdi Bakar.

Sebanyak 12 orang kerabat dari Malaysia membuat penobatan ini tidak sekedar acara lokal dan nasional, tetapi juga merambah regional.

Kegiatan akbar Penobatan Sultan Bangsa diawali pesta rakyat pada Jumat, 28 Juli. Berbagai kesenian kuno khas Bengkulu dimainkan antara lain tari Gandai, Tari Randai, Pencak Silat, Saraval Enam, dan Musik Doll.

Masyarakat juga dijamu dengan aneka kuliner hasil pemotongan satu ekor kerbau, dua ekor sapi, dan lima ekor kambing. Tidak sembarang angka, satu ekor kerbau melambangkan rasa syukur pada Tuhan. Sedangkan dua ekor sapi bermakna masyarakat Pekal dan Pemerintah sepakat bahwa NKRI adalah harga mati.. Sementara lima ekor kambing adalah tekad mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara.(Mada Mahfud)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan