oleh

Wah, Gusti Fita Wiroyudho Beberkan Persoalan Utama Keraton Zaman Now

Gusti Fita Wiroyudho bisa jadi personifikasi yang tepat akan sosok putri keraton Yogyakarta yang lembut, santun sekaligus pintar. Hal itu terlihat saat sesi tanya jawab peluncuran Gamma Amantubillah di Bali, 21 April 2018. Gusti Fita membeberkan persoalan utama keraton yang seakan mustahil dipecahkan sekarang ini, apa itu?

Sosoknya lembut mungil, beriringan dengan nada bicaranya yang halus. Namun di balik kelembutannya, istri Ketua Umum Masyarakat Adat Nusantara (Matra) KPH Wiroyudho, mampu mengemukakan persoalan yang berbobot terkait masalah keraton. Tanpa ragu, ia menyampaikan sesuatu yang seakan enggan diungkap para raja secara terbuka dan sekaligus menyampaikan gagasan pemecahan masalah.

Persoalan utama keraton saat ini adalah klaim dari banyak pihak sebagai raja, sultan, atau pembangku adat paling sah di sebuah keraton. Itu terjadi di sebagian besar keraton di Indonesia.

Baca juga: http://mediaraja.com/wow-baru-pertama-organisasi-raja-dipimpin-wanita-32-tahun/

Kerap di sebuah gelaran, muncul dua pihak atau lebih yang mengaku paling berhak sebagai raja atau mewakili keraton. Jika klaim dilakukan dengan baik, mungkin tak menimbulkan masalah. Namun jika sampai terjadi keributan, berdampak sesuatu yang tak elok di mata publik. Tak jarang pula, saling klaim berujung di pengadilan yang berlarut-larut.

Dampaknya merugikan keraton itu sendiri. Pihak lain termasuk pemerintah akan kebingungan, mesti berhubungan dengan pihak mana jika ingin bekerjasama menghidupkan budaya keraton.

Tak salah pula, jika kemudian lembaga tertentu mengaku beranggotakan raja-raja Nusantara. Lembaga tersebut, lalu mengklaim raja-raja Nusantara mengusung calon tertentu menjadi Capres 2019.

Baca juga: http://mediaraja.com/kph-wiroyudho-negara-semestinya-tempatkan-raja-di-posisi-terhormat/

Saling klaim sebenarnya wajar-wajar saja mengingat seorang raja seringkali memiliki lebih dari seorang anak. Persoalan lebih rumit lagi jika keraton tersebut sudah puluhan tahun bahkan ratusan tahun tak aktif, dan kemudian tiba-tiba beberapa pihak saling klaim sebagai raja yang paling sah.

“Jika ada dua, tiga atau bahkan lebih, lalu siapa yang bisa memverifikasi pihak yang betul-betul sah duduk di keraton. Maka tentu perlu lembaga yang kredibel yang bisa memverifikasi,” kata Gusti Fita yang kala itu mengenakan busana dominan ungu.

Tak adanya pihak yang memverifikasi yang kredibel dan diterima semua pihak, membuat permasalahan tak terselesaikan. Bahkan yang memprihatinkan, berlaku mekanisme pasar, pihak yang memiliki kekuatan finansial,  cenderung lebih diterima banyak pihak.

“Akhirnya uang yang bermain untuk menentukan raja, sultan atau datu,” keluh Gusti Fita.

Wah, sulitnya menentukan raja zaman now.  (Mada Mahfud)

Share:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *